“…bertobat dan menjadi seperti anak kecil…”
December 31, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM
Filed under kesaksian
Dalam perutusan pertamaku sebagai seorang Suster Puteri Kasih, aku mendapatkan kepercayaan untuk mengajar di TK. Aku sungguh bersyukur mendapatkan kesempatan ini karena aku dapat berelasi lebih dekat dengan anak-anak, makhluk-makhluk kecil, yang tak pernah aku habis pikir mengapa Yesus menginginkan kita, orang-orang dewasa, harus belajar dari mereka… harus menjadi seperti mereka.
Berelasi secara lebih dekat dengan anak-anak kecil ternyata sangat menggembirakan lebih dari apa yang selama ini kubayangkan. Ada keterbukaan, kejujuran, kepolosan bicara, namun juga ada jeritan, teriakan, isak tangis, kemanjaan dan kenakalan khas anak-anak kecil. Berusaha mengerti dan memahami apa yang diinginkan anak-anak ternyata tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengan berusaha memahami apa yang diinginkan oleh orang-orang dewasa, karena anak-anak tidak pernah memakai “topeng” untuk menyembunyikan apa pun, hanya karena gengsi atau “jaim” atau apalah namanya, yang merupakan “ciri khas” yang biasa kita miliki sebagai orang-orang “dewasa.”
Pernah seorang murid perempuan di kelas TK A (=nol kecil) tiba-tiba menarik rokku dan memintaku membungkuk untuk mendengarkan bisikannya. Mau tahu apa katanya?….”Suster Mayang, suster jangan gemuk ya…nanti kalau gemuk, suster jadi kelihatan kekar seperti cowok…” Aku langsung tertawa melihat ekspresi kepolosan muridku yang memang pintar dan ceplas-ceplos ini. Bukan itu saja, ungkapannya itu seperti suatu kekuatiran sederhana dari seorang murid yang menyayangi gurunya membuatku sekaligus merasa terharu mendengarnya. Bagiku itu bukan sekedar ceplas-ceplos biasa, tetapi juga berupa “ungkapan perhatian” seorang murid kepada gurunya karena relasi kami yang sudah terbangun begitu akrab.
Saat aku menemani murid-muridku di Kelompok “Play Group” beristirahat, seorang muridku laki-laki bertanya kepadaku dengan cara bicaranya yang cedal,” Apa Custel suka biskuit ini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah biskuit coklat yang dia bawa dari rumah, yang kebetulan juga salah satu biskuit kesenanganku. “O..iya, sayang, Suster juga suka biskuit itu, kenapa?” aku pun balik bertanya. Kemudian tiba-tiba dia mengambil sebuah biskuit dari kotak kuenya dan menyodorkannya kepadaku dengan wajahnya yang “polos” sambil berkata,”Ini buat Custel ya..” Aku sempat terkejut melihat kemurahan hati muridku yang baru berumur hampir 4 tahun ini, tetapi segera kujawab,” Terima kasih ya, sayang…” “Yap..,” sahutnya gembira. Diam-diam saat dia tidak terlalu perhatian dengan kotak kuenya, segera kukembalikan biskuit coklat itu ke dalamnya.
Suatu kali aku juga sempat menegur beberapa anak laki-laki kelompok TK B (=nol besar), karena mereka bertiga hanya bersenda-gurau dan tidak disiplin dalam barisan. Aku tegur mereka dengan suaraku yang tegas dan keras agar mereka mengira aku marah kepada mereka, tetapi apa yang terjadi? Sambil tertawa keras mereka berkata,” Suster Mayang mana pernah bisa marah pada kami, hi..hi..hi..” Aku sempat terkejut dengan respons mereka, tetapi aku tetap pura-pura marah. Mereka pun patuh kembali rapi dalam barisan, tetapi tetap menahan tawa. Ini bukan masalah aku tak mampu bersikap tegas dengan anak-anak, tetapi betapa mereka bisa membaca hatiku dan mataku, bahwa aku tak pernah sanggup untuk bisa sungguh-sungguh marah dengan mereka.
Satu hal yang menyebabkan aku tidak pernah bisa marah dengan anak-anak adalah karena aku yakin bahwa anak-anak kecil tak ubahnya seperti selembar kertas putih kosong yang bersih, yang akan berisi dengan berbagai macam tulisan, coretan atau gambar sesuai dengan orang yang menulis, mencoret, atau menggambar di atasnya. Dalam hal ini, “orang-orang dewasa” yang hidup paling dekat dengan mereka sejak mereka lahir sampai tumbuh dewasa-lah yang sangat berperan membentuk karakter mereka. Jadi setiap karakter anak yang tampak saat dia “besar” adalah hasil “karya” dari kedua orang tuanya, keluarganya maupun lingkungan dimana dia dibesarkan.
Seorang muridku yang baru berumur 4 tahun di Play Group, sebut saja namanya “Doni”, tiba-tiba terserang demam. Dia pun menangis sesenggukan tanpa mengeluarkan suara di dalam kelas. Doni memang anak yang cerdas dan tidak bandel…dia bukan tipe anak yang suka mencari perhatian. Lalu dia pun mulai memanggil-manggil mamanya. “Doni, mama sudah Suster telpon, mungkin jalanan masih macet sehingga mama belum sampai di sini menjemput Donny, sabar ya sayang..” kataku berusaha menghiburnya. Doni pun hanya mengangguk lemah, berusaha mengerti apa yang kukatakan. Kemudian dia pun meminta duduk di pangkuanku dan kupeluk dia erat-erat sambil menenangkannya
bahwa mamanya pasti akan segera datang menjemputnya pulang. Doni pun berhenti menangis, tetapi dia tetap tak mau dikompres. Untunglah dia masih bersedia minum susu hangat dan makan beberapa sendok nasi sekedar untuk menguatkan tubuhnya sambil menunggu mamanya datang menjemput.
Sudah berulang kali kubujuk Doni agar mau tidur di tempat tidur ruang UKS, namun dia tetap tak mau lepas dari pangkuanku. Aku hanya berhasil membawanya ke Ruang UKS, tetapi Doni tetap meminta berada di pangkuanku. Akhirnya aku berusaha untuk membuatnya tertidur sebab mamanya tak kunjung datang-datang juga. Kupilih dua buah lagu “Maria” kesukaanku dan kunyanyikan dengan sedikit berbisik ke telinga Doni berulang-ulang secara perlahan-lahan. Dia pun akhirnya tertidur di pelukanku… Kucoba menidurkan Doni di tempat tidur UKS, tetapi setiap kali itu pula dia terbangun dan kemudian menangis membuat aku merasa iba padanya karena aku telah mengusik kenyamanan tidurnya, sementara itu panas badannya semakin tinggi. Aku tak berani lagi mencoba menidurkannya di tempat tidur UKS itu.
Yang diterlintas dalam pikiranku saat itu hanya satu: Betapa Doni merasa “aman” berada di pangkuanku, padahal tempat tidur di ruang UKS kasur dan bantalnya begitu empuk dan harum, sarung bantal dan spreinya bermotif lucu khas untuk anak-anak, yang kuyakini pastilah akan terasa nyaman untuk ditempati bagi siapa pun yang sedang sakit. Namun Doni memilih tertidur di pangkuanku meskipun tubuhnya pastilah tidak dalam posisi yang nyaman untuk tidur.
Berada di dalam situasi seperti ini tiba-tiba muncul kembali dalam benakku kata-kata Yesus,”…. sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18: 3) Kutatap lagi Doni yang sedang tertidur lelap, satu hal yang kupelajari hari ini dari dirinya adalah betapa seorang anak kecil dapat begitu merasa “aman” dengan seseorang yang sudah dia kenal dengan akrab dan dekat, meskipun orang itu bukan ayah atau ibunya, atau nenek ataupun kakeknya. Doni memilih tidur di pangkuanku karena dia merasa aman bersamaku meskipun aku bukan ibunya sendiri, karena hubungan kami memang sudah sedemikian dekat. Terlintas lagi dalam ingatanku keseharian Doni saat dia tidak sakit seperti sekarang ini: Setiap kali dia tiba di sekolah, dia memelukku dari belakang sambil setengah berteriak “Selamat pagi, Sustel Mayang atau Good morning, Sustel…” dan tetap lengkap dengan ketidakmampuannya mengucapkan huruf “r” dengan fasih.
Kurenungkan lagi “relasiku dengan Allah” sambil menjaga Doni saat itu, betapa aku harus mampu banyak belajar dari Doni yang selalu berusaha untuk mengenalku, berusaha menyapaku hanya sekedar agar aku tahu kehadirannya di sekolah. Namun, aku sendiri belum mampu bersikap seperti “Doni.” Aku belum mampu mempercayakan diriku dan hidupku sepenuhnya pada Allah. Aku sering kali lupa bahwa sebenarnya aku akan selalu aman dalam pangkuan-Nya. Aku kurang “berusaha keras untuk mengenal Allah” secara lebih dekat seperti Doni yang selalu berusaha mengenalku lebih dekat. Aku sering menyapa Allah melalui doa yang hanya terucap di bibir dan bukan melalui doa sederhana yang apa adanya, yang keluar dari kedalaman hatiku. Tanpa kusadari aku lebih merasa aman dengan terbenam dalam kesibukan keseharianku sebagai seorang Suster Muda, yang malahan sering membuat diriku sendiri menjauh dari Allah.
Kutatap lagi dalam-dalam wajah Doni yang penuh kepolosan itu. Ya… anak sekecil Doni sudah mampu memberiku teladan yang begitu berharga tentang bagaimana membangun suatu relasi yang sejati dengan Allah; suatu relasi dimana ada kepercayaan, ada rasa aman, ada perasaan mencintai dan dicintai, ada kesediaan untuk hadir bagi yang dicintai , serta sikap berani untuk selalu berusaha lebih mengenal satu sama lain.
Hari ini, baru terbuka mataku akan apa yang dimaksud Yesus dengan sabdaNya yang termuat di dalam Injil Matius itu. Kali ini bukan dari buku-buku tafsiran Injil Matius ataupun dari homili Romo, tetapi dari seorang anak kecil yang baru berumur 4 tahun. Aku tersenyum diam-diam menyadari betapa rasa penasaranku akan sikap Yesus yang menginginkan kita, orang-orang dewasa, menjadi seperti anak kecil akhirnya terjawab sudah. Bukan dari buku-buku rohani yang hebat, tetapi dari sikap sederhana yang penuh kepolosan yang dimiliki oleh seorang anak kecil…
Saat berdoa malam di kapel, kubuka Injil Matius dan kubaca sekali lagi ayat itu, tetapi kali ini dengan suatu kesadaran baru dan janji untuk dapat mewujudkannya,”… sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Kututup Kitab Suciku sambil tersenyum membayangkan bagaimana Yesus meletakkan Doni di pangkuan-Nya dan aku berlutut di hadapan Yesus sambil mendengarkan segala teguran dan nasihat-Nya sambil mengangguk-angguk tanda aku memahami apa yang dikatakan-Nya dan berjanji untuk melaksanakannya.-
Sr. Mayang, PK




