PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-44 – 16 MEI 2010

February 9, 2010 by Rm. Bastian, CM  
Filed under artikel

Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda

Saudara dan Saudariku Terkasih,

1.      Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini – Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan  Sabda- disampaikan bertepatan  dengan  perayaan Gereja tentang Tahun Imam.  Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, Read more

TIDAK MENGADILI, MERDEKA UNTUK MENCINTAI

December 4, 2009 by Rm. Bastian, CM  
Filed under artikel

Kita menghabiskan banyak energi untuk menilai orang lain. Setiap hari kita mendengar orang membicarakan orang lain dan kita seakan-akan dipaksa untuk menentukan sikap kita terhadapnya. Kita mendengar banyak, melihat banyak, dan mengerti banyak. Perasaan bahwa kita harus memilah-milahnya dalam pikiran kita dan Read more

Suara kasih yang lembut dan tenang

November 19, 2009 by Rm. Bastian, CM  
Filed under artikel

Ada banyak suara yang berebut untuk kita perhatikan. Ada suara yang berkata, “Buktikan bahwa dirimu adalah orang baik.” Suara yang lain berkata, “Semestinya engkau malu terhadap dirimu.” Ada suara lain lagi yang berkata, Read more

SEKSUALITAS MANUSIA: DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI TUBUH YOHANES PAULUS II

January 11, 2009 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under artikel

 

Seksualitas manusia ini menjadi tema yang penting dibahas dalam konteks Teologi Penciptaan karena masyarakat dewasa ini seringkali jatuh dalam pandangan seksualitas yang sempit. Ada yang begitu mendewakan seksualitas; ada pula yang menganggap rendah seksualitas.

 “Karena seks dilihat melulu dari segi libido dan tubuh, seks lalu memperbudak tubuh dan nafsu manusia sendiri. Sebaliknya, jika seks terlalu dilihat sebagai sesuatu yang spiritual, seperti dalam pandangan sebelum revolusi seksual, maka seks pun terasing dari tubuh, dan menjadi alasan untuk menghakimi tubuh.[1]

            Pandangan yang serba ekstrem ini membuat manusia jatuh pada sikap mengumbar segala dorongan seksual atau menjadi takut dan mudah merasa bersalah terhadap aneka bentuk aktivitas seksual. Masalah seksualitas hanya dipersempit pada urusan seks belaka, dan masalah seks hanya dipersempit pada urusan libido saja. Seks sebagai sesuatu yang baik dan alamiah menjadi sesuatu yang kotor dan penuh rekayasa, yang diperparah secara kultural dalam beberapa masyarakat. Yang paling merasakan semua ini adalah kaum perempuan, yang ditindas secara fisik, sosial, dan kultural. 

            Dengan latar belakang keadaan seperti ini, kami hendak merefleksikan seksualitas manusia secara lebih utuh dan seimbang, dengan merefleksikan apa yang menjadi rencana awal Allah sendiri saat menciptakan laki-laki dan perempuan. Refleksi ini didasarkan pada pandangan teologi tubuh Yohanes Paulus II yang bisa kita simak dalam audiensinya sejak tahun 1979-1984. Hasil audiensi ini lalu dikumpulkan dalam dokumen yang berjudul “Theology of The Body.”

 

1.      Pengalaman Awali Manusia (The Original Human Experince)

Ketika merefleksikan kisah penciptaan dan kejatuhan manusia pertama dalam dosa, Paus Yohanes Paulus II membaginya dalam empat keadaan/pengalaman awali manusia, yaitu: original solitude, original unity, original nakedness, dan original sin. Paus mengakui adanya realitas dosa, tetapi Paus mengajak kita untuk melihat keadaan awali manusia supaya kita dapat sungguh-sungguh menyadari makna kehidupan dan seksualitas manusia ini sebagaimana dikehendaki oleh Allah sendiri pada mulanya, sebelum kejatuhan manusia dalam dosa.

 

1.1.            Original Solitude

            Pengalaman awali ini dikisahkan dalam kisah kedua penciptaan (dalam kisah pertama hal ini tidak ditunjukkan). Kisah kedua ini bercorak antropomorfistis di mana “Tuhan membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej. 2:7).”

            Keadaan kesunyian/kesepian/kesendirian (solitude) ini adalah keadaan kesunyian seorang manusia (man), bukan Read more

KELUARGA

January 7, 2009 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under artikel

 

Dari Redaksi

Kita berasal dan bertumbuh di dalam keluarga. Bagi Anda yang akan menikah, kelak juga akan membentuk keluarga. Beberapa cuplikan dari permenungan Francis Xavier Kardinal Ngayân Văn Thuân ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda dalam membangun keluarga. Pesan-pesan ini diambil dari Francis Xavier Kardinal Ngayân Văn Thuân, Jalan Pengharapan, Jakarta: Penerbit Obor, 2004, hlm. 84-85.

************

493. Keluarga adalah sel Gereja, atau dengan kata lain, keluar­ga adalah Gereja dalam suatu miniatur, Ecclesiuncula, tempat Tuhan Yesus hadir dalam kehidupan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan­-Nya secara mistik dalam anggota-anggota keluarga. Refleksi ini memberi terang pada arti, dan mempunyai kekuatan untuk mengubah kehidupan keluarga Katolik.

 494. Keluarga adalah sel Gereja. Kebenaran ini membuat kita melihat dengan jelas keunggulan dan misi keluarga dalam cara-cara yang berikut: (1) keluarga mengabadikan Gereja yang didi­rikan oleh Tuhan Yesus Kristus di dunia ini; (2) kehadiran Allah dinyatakan dalam kepala keluarga; (3) adalah tugas ayah untuk menjalankan kewajiban imam dalam keluarga; (4) keluarga mem­beri kesaksian tentang kehadiran Gereja melalui kehidupannya sehari-hari; (5) upaya-upaya keluarga untuk menengadah kepada Allah menolong Gereja untuk maju juga; dan (6) keluarga mem­perkuat persekutuan antara Allah dan setiap anggota keluarga

 500. Pengalaman mengajarkan kepadamu bahwa doa pagi dan malam dalam keluarga atau lebih tepat, waktu-waktu doa kelu­arga, dapat memenuhi keinginan untuk menjadi satu komunitas dari orang-orang Kristen, satu unit Gereja, menurut kata-kata Tuhan Yesus. “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, Aku ada di sana di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

501. Keluarga Katolik adalah apostolis dalam kesaksiannya. Engkau harus menunjukkan bahwa engkau telah dipanggil kepada kekudusan dan bahwa engkau dapat menghayati suatu kehidupan perkawinan yang menyenangkan bagi Allah. Engkau berbagi dengan keluarga-keluarga yang lain rahmat dan kebahagiaan yang telah dicurahkan Allah kepada keluargamu.

Setiap orang yang menyaksikan keluargamu akan tergerak untuk mengajukan pertanyaan, “Bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghayati kehidupan semacam itu, bersatu satu sama lain dan setia kepada satu sama lain?”

Pesan Natal Bersama KWI – PGI 2008

December 25, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under artikel

“HIDUPLAH DALAM PERDAMAIAN DENGAN SEMUA ORANG”

(bdk. Rm. 12:18)

 

Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada.

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1.      Di tengah sukacita Natal, perayaan kelahiran Yesus Kristus, marilah kita melantunkan mazmur syukur ke hadirat Allah. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa damai bagi seluruh umat manusia. Kedatangan-Nya mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Ia telah merubuhkan tembok pemisah dan membangun persekutuan baru, yang kukuh dan tangguh, yang bersumber dan berakar di dalam diri-Nya (bdk. Ef. 2:14, dst.). Peristiwa Natal, sebab itu dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai, khususnya dalam keadaan dewasa ini yang diwarnai ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok sendiri.

Umat Kristiani memahami dirinya sebagai bagian utuh dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam kerukunan dan kedamaian. Namun, akhir-akhir ini rumah kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup damai. Berbagai kelompok berusaha menunjukkan kekuatan mereka di hadapan kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman. Dalam usaha untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga negara, pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengambil langkah-langkah nyata menuju kebersamaan yang rukun dan damai.

Kita merindukan keadaan damai yang memberi rasa aman bagi warga negara, tanpa Read more

Vatikan: Ponsel dan Internet Merusak Jiwa

December 12, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under artikel

[Okezone 29/11/09] – Kemajuan teknologi yang semakin pesat dapat berdampak positif maupun negatif bagi peradaban manusia. Salah satu kemajuan teknologi yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia saat ini adalah internet dan ponsel.

Kendati demikian, kemajuan internet dan ponsel justru dinilai tahta suci Vatikan sebagai sesuatu yang dapat merusak jiwa manusia.

Seperti dilansir Bignewsnetwork, Sabtu (29/11/2008), Juru bicara Paus Benedictus XVI, Pastur Federico Lombardi mengatakan, ponsel dan internet semakin menjauhkan manusia dari kehidupan spiritualitasnya.

“Pada masa ini, ponsel dan internet menjadikan kehidupan semakin rumit dari masa sebelumnya, orang semakin sulit memelihara dimensi spiritual mereka,” kata Lombardi, dalam sebuah program siaran televisi Vatikan.

Menurut Lombardi, tanpa kehidupan spiritual, jiwa manusia akan dilanda kehampaan, dan kekeringan. Ponsel dan komputer membuat dunia menjadi bising sehingga orang sukar mencari keheningan. Padahal, menjaga kehidupan spiritual dengan meditasi atau beribadah dalam situasi tenang sangat penting untuk memelihara jiwa manusia.

“Meskipun sulit, tapi ini sangat dibutuhkan,” katanya.

Sebelumnya, Vatikan juga mengingatkan kemerosotan kualitas hidup manusia yang diakibatkan karena sebagian orang menjadikan uang sebagai tujuan utama hidunya di masa sekarang. Paus Benedictus XVI mengatakan, krisis global yang terjadi saat ini merupakan bukti bahwa uang bukanlah tujuan utama dalam hidup.

(srn)

sumber:http://mirifica.net/artDetail.php?aid=5440

Pesan Bapa Suci untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 42 pada 4 Mei 2008

May 1, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under artikel

‘Media Komunikasi Sosial:
Pada persimpangan antara Pengacuan Diri dan Pelayanan.
Mencari Kebenaran untuk berbagi dengan orang lain.

Saudara-Saudari Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini –“Media Komunikasi Sosial: Pada persimpangan antaraPaus Benediktus XVI pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain” – menekankan betapa pentingnya peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah Saya tandaskan dalam Pesanku untuk Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa: ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggungjawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5).

2. Berkat perkembangan teknologi yang meroket, media telah memiliki kemampuan luar biasa yang serempak membawa berbagai pertanyaan dan persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan sampai sekarang. Kita tidak dapat menyangkal sumbangsih yang diberikan oleh media dalam hal penyiaran berita, pengetahuan tentang peristiwa dan penyebaran informasi seperti peranannya yang menentukan dalam kampanye pemberantasan buta huruf dan kegiatan sosialisasi, pengembangan demokrasi dan dialog di antara bangsa-bangsa. Tanpa sumbangsih media, akan amat sulit mengembangkan dan memperkokoh saling pengertian di antara bangsa-bangsa, memungkin terwujudnya dialog perdamaian di dunia, memberikan jaminan akses ke informasi sekaligus menjamin sirkulasi gagasan secara leluasa teristimewa bagi mereka yang menggalakkan gagasan-gagasan kesetiakawanan dan keadilan sosial. Benar bahwa secara keseluruhan media bukanlah semata-mata sarana penyebaran gagasan. Media dapat dan harus juga Read more

Next Page »