LAKI-LAKI HITAM BERRAMBUT KERITING
April 11, 2010 by Rm. Bastian, CM
Filed under kesaksian
Oleh: Pastor Mans Werang, CM (seorang misionaris Kongregasi Misi yang melayani Suku Awin, Papua New Guinea)
Wajah anak itu hanya tersenyum kaku diantara anak-anak yang lainnya. Raut mukanya sangat berbeda dengan anak-anak di kampung Grehosore. Ketika anak-anak sedang tertawa karena lucu, dia hanya berdiri mematung dan diam saja. Mungkin dia tidak mengerti bahasa dari anak-anak Awin itu. Kataku dalam hati. Kulit tubuhnya berbintik, dan bersisik sepertinya dia mengidap penyakit sapoma. Tatkala anak-anak mulai bermain lagi, dia hanya mengikuti saja, tetapi dia hanya berdiri saja sepertinya dia bingung dengan apa yang harus dikerjakan dan dikatakannya.
Mataku masih memandang anak itu yang tampak sangat berbeda dari anak-anak lainnya yang saya kenal dan tahu wajah mereka. Seorang ibu datang mendekatiku dan berkata bahwa anak itu adalah Jonathan yang ditemukan Erick, suaminya di kota Kiunga dan dibawa ke rumah kami untuk dirawat.
Merasa dicintai
Jonathan adalah anak yatim piatu. Ayah dan ibunya meninggal dunia tatkala dia masih duduk di bangku kelas lima. Tidak ada orang lain yang dapat membiayai pendidikannya dan kedua adiknya. Lalu Read more
“…bertobat dan menjadi seperti anak kecil…”
December 31, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM
Filed under kesaksian
Comments Off
Dalam perutusan pertamaku sebagai seorang Suster Puteri Kasih, aku mendapatkan kepercayaan untuk mengajar di TK. Aku sungguh bersyukur mendapatkan kesempatan ini karena aku dapat berelasi lebih dekat dengan anak-anak, makhluk-makhluk kecil, yang tak pernah aku habis pikir mengapa Yesus menginginkan kita, orang-orang dewasa, harus belajar dari mereka… harus menjadi seperti mereka.
Berelasi secara lebih dekat dengan anak-anak kecil ternyata sangat menggembirakan lebih dari apa yang selama ini kubayangkan. Ada keterbukaan, kejujuran, kepolosan bicara, namun juga ada jeritan, teriakan, isak tangis, kemanjaan dan kenakalan khas anak-anak kecil. Berusaha mengerti dan memahami apa yang diinginkan anak-anak ternyata tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengan berusaha memahami apa yang diinginkan oleh orang-orang dewasa, karena anak-anak tidak pernah memakai “topeng” untuk menyembunyikan apa pun, hanya karena gengsi atau “jaim” atau apalah namanya, yang merupakan “ciri khas” yang biasa kita miliki sebagai orang-orang “dewasa.”
Pernah seorang murid perempuan di kelas TK A (=nol kecil) tiba-tiba menarik rokku dan memintaku membungkuk untuk mendengarkan bisikannya. Mau tahu apa katanya?….”Suster Mayang, suster jangan gemuk ya…nanti kalau gemuk, suster jadi kelihatan kekar seperti cowok…” Aku langsung tertawa melihat ekspresi kepolosan muridku yang memang pintar dan ceplas-ceplos ini. Bukan itu saja, ungkapannya itu seperti suatu kekuatiran sederhana dari seorang murid yang menyayangi gurunya membuatku sekaligus merasa terharu mendengarnya. Bagiku itu bukan sekedar ceplas-ceplos biasa, tetapi juga berupa “ungkapan perhatian” seorang murid kepada gurunya karena relasi kami yang sudah terbangun begitu akrab.
Saat aku menemani murid-muridku di Kelompok “Play Group” beristirahat, seorang muridku laki-laki bertanya kepadaku dengan cara bicaranya yang cedal,” Apa Custel suka biskuit ini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah biskuit coklat yang dia bawa dari rumah, yang kebetulan juga salah satu biskuit kesenanganku. “O..iya, sayang, Suster juga suka biskuit itu, kenapa?” aku pun balik bertanya. Kemudian tiba-tiba Read more
Kedua Guruku itu mengajarkan: ”Allah Itu …..”
November 12, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM
Filed under kesaksian
Sudah lama aku tidak melakukan kunjungan ke beberapa orang miskin yang sudah kukenal dan kulayani sejak masa Seminari [masa novisiat]. Begitu banyak kesibukan tugas dan tanggung-jawab yang membuat aku kurang melakukan kunjungan dalam arti yang sesungguhnya. “Kunjungan” yang kumaksudkan adalah kunjungan ke rumah-rumah orang miskin dengan tujuan untuk saling berbagi rasa dan pengalaman, yaitu pengalaman suka maupun duka, pengalaman pergulatan hidup mereka sehari-hari. Kunjungan yang sangat aku sukai yaitu saat-saat aku “duduk tenang dan damai” bersama-sama dengan orang-orang miskin, yang sekaligus juga adalah guruku dan keluargaku, untuk menjadi “pendengar yang baik & setia”, sekaligus menjadi “sahabat dan saudara” yang selalu siap sedia memberi semangat dan dukungan, di istana mereka yang sangat sederhana, yaitu satu atau dua petak rumah gubuk bambu mereka, namun penuh dengan ketulusan, keterbukaan, dan kedamaian.
Hari ini aku sungguh-sungguh menjadwalkan secara khusus agar aku dapat berkunjung ke rumah “mbah Imah dan mbah Inah”, apalagi sembako bulanan milik mereka belum diambil-ambil juga dari Susteran. Ada sesuatu yang mengusik hatiku, mungkin mereka sakit sehingga tidak dapat berjalan ke susteran untuk mengambil sembako itu. Mbah “Imah” dan mbah “Inah,” adalah dua nenek kakak beradik yang ditinggal mati oleh suami mereka, namun tidak mempunyai anak. Sanak saudara mereka yang tinggal di luar kota atau di luar pulau hidup sangat pas-pasan, sehingga tidak mungkin diharapkan untuk selalu memberi kiriman uang setiap bulannya. Keponakan mereka yang ada di Kediri pun ternyata juga hidup berkekurangan. Meskipun demikian, mereka berdua yang sudah tua ini tidak mau sekedar menadahkan tangan meminta bantuan kesana-kemari, tetapi dari uang tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, mereka berjualan sedikit rokok serta camilan seperti kacang goreng dan permen. Selama mereka merasa sehat dan badan mereka tidak sakit atau linu, mereka terus berjualan, tak perduli hari sedang hujan deras sekalipun. Tak heran para pembeli yang datang membeli rokok atau camilan kepada kedua simbah ini tidak pernah meminta uang kembalian mereka, sebagai rasa kagum dan simpati yang mereka tunjukkan atas kegigihan mbah berdua ini dalam menjalani hidup dengan penuh semangat, tanpa mengeluh, karena yakin Tuhan itu Mahamurah dan adil.
Dengan membawa makanan yang bisa mereka santap sebagai lauk makan siang, aku pun bersepeda ke rumah kedua simbahku ini, yang memang tak jauh dari rumah susteran. Begitu sampai di pintu rumah mereka, aku disambut layaknya cucu mereka sendiri yang sudah lama tidak datang berkunjung. Banyak hal yang diceritakan oleh mereka berdua dengan penuh antusias dan tak ada putus-putusnya secara bergantian, sampai-sampai sulit rasanya bagiku untuk bisa angkat bicara sebentar saja, sekedar menanggapi cerita pengalaman hidup mereka yang begitu sederhana, tetapi begitu banyak rahmat Allah yang hadir di dalamnya.
“Kulo sampun bolak-balik tibo ana ping sepuluh, Ning..tapi nggih Gusti Allah niku kok paring, wong sirah kulo niki getihen akeh sampek gak mandeg-mandeg, nanging dak pangani obat saanane.. kok getihe banjur bisa mandeg dhewe…” begitu laporan mbah “Inah” dengan bahasa Jawanya yang kental kepadaku dengan penuh kepolosan. (Saya ini sudah jatuh berulang-ulang, Ning, tetapi Tuhan itu kok selalu baik dan murah hati. Padahal waktu jatuh kepala saya ini sampai berdarah banyak dan terus mengalir tak berhenti-berhenti juga. Lalu saya minum obat seadanya, eh..kok darahnya terus bisa berhenti sendiri..”)
Aku memang biasa dipanggil “Ning” oleh mereka, karena Read more




