Tuhan Mengubahku Menjadi Manusia Baru

January 5, 2009 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

Dari Redaksi

Kisah di bawah ini adalah sebuah kisah nyata dari seseorang yang tidak disebutkan namanya demi menjaga privasi. Kisah ini sangat menarik. Semoga menggugah saudara untuk semakin dekat dengan Tuhan dan mengalami kasih-Nya.

Kisah ini diambil dari website: www.katolisitas.org. Terima kasih kepada katolisitas.org yang telah memberi izin umum untuk menggunakan segala materi yang ada diwebsitenya.

************

Hidupku yang dulu

Saya bukan berasal dari keluarga Katolik. Keluarga saya mulai dari orang tua, paman, dan tante saya hampir semuanya beragama Buddha. Maka saya pun dulu beragama Buddha, ikut agama orang tua. Saya menjadi Katolik sebelum saya menikah. Awalnya, saya hanya ikut-ikutan saja, karena ingin ikut calon istri saya saat itu, dan asal seiman dengan dia. Karena prinsip hidup saya waktu itu adalah, agama hanyalah suatu ajaran agar manusia itu beradab, karena kalau tanpa agama yang mengekang tingkah laku manusia, manusia itu bisa jauh lebih sadis dan lebih kejam dari binatang. Jadi saat itu saya tidak sungguh- sungguh mengenal Tuhan, sehingga saya tidak juga menghargai segala karunia kasih-Nya.

Sebenarnya, kasih Tuhan yang saya alami dalam hidup saya sudah sangat banyak tapi karena prinsip saya di atas, saya sama sekali tidak merasakannya. Segala keberhasilan saya itu saya anggap sebagai hasil kemampuan saya, bukan berkat dari Tuhan. Kesombongan saya membuat saya berpikir bahwa segala karunia dan berkat Tuhan yang saya terima adalah hasil jerih payah saya sendiri. Sampai suatu saat saya sadar dan bertobat, dan beginilah ceritanya.

Awalnya kehidupan perkawinan saya baik-baik saja: sayang istri, sayang anak-anak dan orangtua. Saya dikaruniai seorang istri yang sangat perhatian dan pengertian, dan sangat mengasihi saya. Seiring dengan kesuksesan usaha saya, mulailah saya masuk ke dunia malam dimana awalnya adalah untuk menjamu/ ‘entertaint’ para supplier dan para pelanggan. Bersama dengan teman bisnis saya, mulailah saya menjelajah dari satu karaoke ke karaoke lain. Saya merasa, dengan menjamu mereka maka saya bisa merasa akrab dengan mereka, sehingga bisa memperlancar usaha saya. Pada saat itu, istri saya tidak curiga. Ia sangat pengertian dan percaya pada saya; namun sayangnya, saya malah menyalah gunakan segala kebaikannya.

Dosa menghancurkan segalanya

Karena sering ikut teman-teman dalam kehidupan malam, suatu hari saya dipaksa mencoba ecstasi. Awalnya saya pura-pura terima kemudian saya buang, namun lama-lama hal ini diketahui oleh mereka. Suatu hari di ulang tahun teman saya itu, saya dipaksa menelan pil ekstasi. Sejak itu mulai rusaklah kehidupan saya, dan saya mendapati diri saya terjerumus ke lubang yang semakin dalam. Mungkin di antara para pembaca di sini juga sudah ada yang tahu bagaimana akibat dari pergaulan dengan kehidupan malam. Pada kesempatan ini, saya ingin menghimbau teman-teman sekalian, janganlah mau coba-coba sekali-kali masuk ke dalam dunia hiburan malam. Dunia malam dapat menyebabkan kehancuran hubungan kita dengan keluarga dan Tuhan.

Saya yang awalnya hanya pergi ke hiburan malam dua kali sebulan, terus menjadi satu kali seminggu, dan akhirnya saya menemukan diri saya terjerumus ke dunia malam hampir setiap hari. Teman-teman saya ada yang sampai tidak tahan melihat kelakuan saya, sehingga saya ditegur dan disuruh mengaku dosa pada istri saya. Saya begitu takut, karena saya tahu bahwa saya telah berbohong begitu banyak kepada istri saya yang begitu penuh pengertian dan mengasihi saya. Namun, akhirnya suatu hari saya memberanikan diri, mengaku kepadanya segala kesalahan saya… Dan betapa hebatnya akibat yang harus saya hadapi! Ya, akhirnya ketakutan saya menjadi kenyataan, karena keluarga saya menjadi … hancur… hancur… dan hancur semuanya……. Istri saya begitu terpukul, ia merasa dikhianati, dan ya, semua memang salah saya. Kalau bukan karena anak-anak saya, mungkin istri saya segera minta cerai pada saat itu. Sayapun sebenarnya sangat terpukul melihat istri saya. Saya sampai tidak dapat mengerti akan diri saya sendiri, kenapa saya sampai hati menyakiti istri saya yang sedemikian mengasihi saya. Sebenarnya, apa yang saya cari? Mengapa saya jadi demikian tega kepadanya? Rasa sesal saya menggunung, dan ujungnya adalah putus asa. Perasaan saya saat itu seperti dunia runtuh.. Kiamat… sampai terbersit mau bunuh diri saja, karena apa lah artinya hidup ini kalau keluarga sudah berantakan semuanya….

Hari itu saya kabur dari rumah, Read more

Kekuatan Wanita yang Mungkin Tak Dimiliki Laki-laki

August 12, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

Seorang anak laki-laki bertanya pada ibunya: “Mengapa engkau menangis?”
“Karena aku seorang wanita,” jawab sang ibu.
“Aku tidak mengerti,” kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak akan pernah mengerti.”

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?”
“Semua wanita menangis tanpa alasan,” hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, dan dia tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?”
Tuhan berkata: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa.

Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.”
“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang sering kali datang dari anak-anaknya. ”
“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”
“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya
Read more

KEPERCAYAAN VS KETAKUTAN UNTUK DITOLAK

May 25, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

“Kadang-kadang kita sangat takut ditolak, sehingga kita mempertahankan diri dengan lebih dahulu membuat penolakan. Kita membuat jarak dengan orang lain – kita menolak mereka – dengan berpikir bahwa lebih baik menjauh dari mereka daripada membiarkan mereka menghancurkan kita”
(Douglas A. Marrison dan Christopher P. Witt)

Kegagalan dalam membangun relasi dan kehidupan bersama terkadang bersumber dari ketakutan untuk takutditolak. Ketakutan itu terkadang tidak berdasarkan atas fakta yang dialami bersama dengan orang lain. Tetapi ketakutan itu lahir dari kecurigaan yang kita ciptakan sendiri. Kita berpikir seperti ini: “Ketika orang lain atau pasangan hidupku mengetahui keburukan atau kelemahanku dan bahkan momen-momen dalam hidupku yang paling aku sembunyikan akan menolak dan bahkan meninggalkanku. Pengalaman ditolak dan ditinggalkan ini akan menghancurkan hidupku”.

Relasi dan kehidupan bersama dengan orang lain harus dibangun di atas kepercayaan. Kita harus percaya bahwa orang lain akan menerima kita apa adanya, baik kebikan dan keburukan kita. Penerimaan orang lain terhadap diri kita hanya mungkin jika kita mewujudkan kepercayaan itu dalam kejujuran dan bukan dalam kepalsuan diri. Kejujuran? Ya, kejujuran tentang siapa kita. Kita tidak perlu menggunakan topeng diri agar kita diterima oleh orang lain. Topeng diri akan membuat diri kita tidak aman! Ketidakamanan diri itu akan Read more

KEBAIKAN DAN KETULUSAN HATI

April 20, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

Suatu hari aku sengaja mampir di salah satu Plaza di Malang. Waktu di arloji saya menunjukkan pkl. 17.15 WIB. Di depan Plaza itu aku bertemu dengan seorang ibu, yang dulunya seorang pemulung dan sekarang menjadi pengemis. Ibu ini sangat dekat dengan kami (teman-teman dan aku sendiri). Setelah sekian lama tidak bertemu dengan dia, aku sangat kaget dengan kondisi tubuhnya. Dia mulai kurus dan tangan kanannya tidak berfungsi dengan baik karena lumpuh. Raut wajahnya semakin keriput. Sengatan sinar matahari semakin membuat tubuhnya menjadi gosong! Namun, dia masih memiliki daya ingat yang cukup tajam.

Perjumpaan dengan Ibu ini menoreh kenangan indah yang tak terlupakan. Bagaimana mungkin melupakaan doanya agar aku setia dalam menjalani pilihan hidupku: “Ibu selalu mendoakan kalian semoga jadi Romo. Jangan keluar ya, seperti si …. (dia menyebutkan nama-nama teman yang sudah keluar!). Tidak hanya berhenti pada doa itu! Tetapi,  walaupun hidupnya tergantung pada kebaikan orang lain, dia masih menawarkan uang hasil ngemisnya kepada saya untuk ongkos pulang , walaupun kemudian aku menolaknya secara halus. Betapa baik dan tulusnya Ibu ini! Ketika banyak orang sibuk berbicara tentang bagaimana mendapatkan uang yang banyak, Ibu ini memilih untuk melepaskan apa yang dimilikinya. Apa yang dilakukan ibu ini adalah sebuah teguran bagi para pemimpin yang sibuk mengurus kepentingannya sendiri. Kaum religius, yang memiliki cita-cita melepaskan segala sesuatu untuk mencari Kerajaan Allah, juga tidak bisa melepaskan diri dari teguran seorang Ibu yang sederhana ini!

Karena hari sudah hampir malam, saya meminta izin untuk pulang. Setelah sampai di kamar dan merenungkan kembali pengalaman bersama dengan Ibu itu, saya percaya bahwa kebaikan dan ketulusan hati adalah milik siapa saja dan tidak mengenal status sosial. Mereka yang dianggap sampah dan tak berdaya dalam masyarakat pun memiliki keagungan jiwa yang luhur. Mengapa mereka  memiliki keagungan jiwa ini? Tidak lain karena mereka  memiliki kesadaran akan hidup ini sebagai anugerah Tuhan. Karena hidup ini adalah anugerah Tuhan, mereka  senantiasa bersyukur atas apa yang mereka terima dengan penuh kerendahan hati.

Betapa saya menjadi orang yang berbahagia karena Ibu itu mengajarkan saya bahwa “hanya orang yang senantiasa bersyukur atas hidupnya yang mampu mengekspresikan keagungan jiwa (kebaikan dan ketulusan hati).” Aku bersyukur atas pengalaman ini dan aku pun akan berusaha belajar dari Ibu itu tentang kebaikan dan ketulusan hati. (Rm. Bastian, CM)

Aku bersyukur atas kejadianku dahsyat dan ajaib

March 10, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14).

Hari  ini adalah hari istimewa di dalam hidupku, jauh dari kemeriahan pesta, tetapi penuh kasih dan persaudaran… Menakjubkan…!!!

Tuhan…, sekian lama aku hidup di dunia ini, betapa aku sungguh merasakan kasihMu

Suka dan duka yang aku alami tidak pernah lepas dari penyelenggaraanMu….

apa yang aku alami dan jalani hingga saat ini sungguh ajaib dan jiwaku benar-benar menyadarinya….

Yang paling indah dalam hidupku adalah Engkau telah menganugerahi aku panggilan

yang sungguh indah…

Memang… panggilan indah yang Engkau anugerahkan tidak pernah lepas dari misteri salibMu yang mengagumkan…. Tetapi ketika Engkau meminta aku memeluk salib, Engkau juga tidak lupa berkata kepadaku: “Jangan takut Aku menyertai engkau hingga akhir jaman….” dan sungguh Engkau telah dan akan menepati janjiMu, karena Engkau adalah Allah yang setia……

Tuhan, aku serahkan hidup dan panggilanku ke dalam Penyelenggaraanmu….

dan hanya ini yang aku minta: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-24)

(bastian-wawan, cm

MEMORI AKAN KEBAIKAN ALLAH

January 8, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

Hidup itu indah. Ya memang hidup itu indah. Keindahan hidup itu hanya mungkin bisa kita alami, manakala kita mau membuka hati dan mata untuk melihat kebaikan-kebaikan yang telah kita alami di dalam hidup kita. Dengan kata lain, memori akan kebaikan yang kita alami memampukan kita mengakui betapa hidup ini indah dan patut disyukuri. Hidup kita mungkin sarat dengan kesulitan hidup, tetapi keindahan itu tetap tampil di dalam hidup kita.

 

Beberapa hari yang lalu, seseorang mengisahkan betapa hari-hari yang dilaluinya terasa mencekam dan sepi walaupun kehidupan ekonominya baik. Hari-hari yang dilalui dengan hati yang mencekam dan sepi bermula ketika anak kesayangannya yang menderita kangker meninggal dunia. Betapa dia merasa kehilangan. Bertahun-tahun, dia tidak mau menerima fakta itu. Dalam kesendirian, dia selalu mengenang peristiwa itu. Menakutkan! Tidak mengenakkan! Melibatkan diri dalam pelbagai aktivitas adalah jalan melupakan peristiwa itu. Tetapi, lari dari kenyataan tidak juga membuahkan hasil.

 

Kita mungkin memiliki ingatan-ingatan akan pengalaman masa lampau yang tidak mengenakkan dan mencekam hingga kita Read more

Menarik Diri

November 13, 2007 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi

Dalam suatu acara retret, kami meminta peserta untuk terlibat dalam sebuah permainan “Join the Dots”. Para peserta diberi lembaran kertas di mana terdapat gambar sembilan titik yang membentuk empat persegi panjang. Peserta diminta menghubungkan kesembilan titik itu dengan empat garis lurus, tetapi dengan syarat alat tulis tidak diperkenankan diangkat dari lembaran kerja. Semua peserta tidak dapat mengerjakannya. Mereka hanya berhasil menghubungkan titik itu tetapi bukan dengan empat garis lurus seperti yang kami minta, melainkan dihubungkan dengan lima garis lurus. Mengapa mereka gagal? Rupannya kegagalan mereka terletak pada sudut pandang mereka yang terpusat pada bagian dalam kotak yang dibentuk oleh kesembilan titik itu. Ketika kami mengajak mereka untuk menarik garis lurus melampaui “kotak”, kesembilan titik itu dapat dihubungkan dengan empat garis lurus.

Keputusasaan kita kerapkali dikendalikan oleh sudut pandang kita yang terlalu sempit! Kaku! Ketika kita berhadapan dengan aneka persoalan hidup, kita tidak sabar untuk segera menyelesaikannya. Tetapi apa yang kita inginkan itu tidak tercapai, walaupun telah berusaha menyelasikannya dengan pelbagai cara. Kita kehilangan akal! Kecewa! Putus asa! Mungkinkah jalan itu telah buntu?

Kita perlu keluar dari “kotak” diri kita sendiri. Kita perlu Read more

HIDUP MENURUT KEHENDAK ALLAH

October 24, 2007 by Rm. Bastian-Wawan CM  
Filed under refleksi


Bacaan: Luk 12:39-48

Dalam hidup sehari-hari, kita menyaksikan adanya ganjaran yang diterima oleh mereka yang sungguh melakukan tugasnya dengan baik. Kenaikan jabatan selalu diperuntukkan bagi mereka yang memiliki prestasi kerja yang baik. Mereka yang bertanggung jawab atas tugasnya akan memiliki peluang besar menempati posisi yang baik dalam sebuah perusahan atau organisasi. Mereka yang hanya bermalas-malasan, tidak tahu apa yang harus dikerjakan, tidak bertanggung jawab, tidak akan mendapatkan posisi yang enak seperti mereka yang bertanggung jawab atas tugasnya.

Sikap bertanggung jawab dituntut Read more

Next Page »