Wednesday, February 22nd, 2012

Belajarlah Untuk Berkata "Cukup"

20

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh,dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang!

Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup. Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”.

Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang.

Kapankah kita bisa berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata “Cukup”

NN

diposting oleh Bpk. Herry (aching_herry@yahoo.com)


About Rm. Sebastianus W

Rm. Bastian, CM Rm. Sebastianus W. Bu'ulölö, CM biasa dipanggil Rm. Bastian. Imam Kongregasi Misi (CM). Dlahirkan di Teluk Dalam - Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Formator untuk calon imam di Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo - Keuskupan Surabaya yang terletak di Garum - Blitar, Jawa Timur. Pemilik blog http://diamsejenak.com. Untuk hal lain, kontak via E-mail: bastiancm@diamsejenak.com; Twitter: @diamsejenak; Facebook: http://www.facebook.com/Romo.Sebastian.CM


Comments

20 Responses to “Belajarlah Untuk Berkata "Cukup"”
  1. iwan says:

    good reflection!!

  2. To: Iwan

    trims atas kunjungan dan apresiasinya…

    gbu

  3. Tina says:

    Artikel yang bagus dan bisa lebih menyadarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah kita peroleh … setiap hari …
    Have a blessed day !

  4. To: Tina
    hai Tina, makasih atas commentnya ya….. semoga kita menjadi orang yang tahu bersyukur
    gbu

  5. horasman pandiangan says:

    Jujur aku juga pernah mengalami hal yang di alami petani tersebut, dimana “ketidakcukupan” selalu selalu berteriak dalam hati untuk segera “dicukupkan”, namun selalu gak pernah merasa cukup.,

    Aku mulai sadar,
    ketika aku tiba di palembang untuk masuk menjadi mahasiswa baru,

    Siang itu, aku pergi ke pasar untuk membeli keperluan kuliah perdana ku, disana aku lihat begitu banyak-nya pengemis, pengamen, pedagang kaki lima, dan orang gila yang kumal dan kotor sekali. Bahkan sempat aku mengamati beberapa pengemis dengan kaki atau tangan yang busuk bernanah karena penyakit
    yang aku gak tau tu penyakit apa.,
    dan seminggu dari situ aku juga membaca koran kota tersebut yang salah satu beritanya mengatakan bahwa di temukan seorang orang gila meninggal dunia di daerah pasar yang aku kunjungi itu, diduga karena kelaparan.

    Dengan dihadapkan dengan kenyataan yang baru saja kualami tersebut, membuat aku sadar bahwa sungguh begitu “berkecukupannya” aku atas apa yang telah aku miliki sekarang.

    Serasa aku ingin menangis dan malu terhadap diriku sendiri dan Terhadap Dia sebagai sumber rejeki yang selalu memenuhi keinginanku.

    Hingga sampai sekarang, jika “ketidapuasan” itu mulai datang dan mengacau pikiran dan hatiku, maka aku akan mengingat pengalaman ku di pasar tersebut sebagai pengalaman yang akaan selalu menegur ku untuk bisa berkata “cukup” dan terimakasih atas apa yang telah aku dapatkan hingga saat ini.

    Terima kasih Frater atas ceritanya..,
    GBU

  6. To: horasman pandiang

    Terima kasih atas kunjungan, comment, juga sharing pengalaman hidupnya….

    saya selalu menantikan sharing saudara ya….

    trims n gbu

  7. Puji Tuhan karene saya pun merasa terharu dengan ilustrasi di atas.
    Saya orang Timor Leste, sekarang tinggal di DILI.

    Alberto

  8. lindanisida says:

    selamat Bertemu …saya ibu linda dari Palangkaraya Kalimantan Tengah.

    Sangat menyentuh Ceritanya… supaya kita sadar… karena hidup orang sekarang sangat hedonis, ikuti standar produsen iklan, hidup bergaya seperti selebritis , sinetron, , akhirnya selalu merasa Tuhan itu , mberinya kurang banyaklah,.. lambatlah, gak sesuai seleralah … ngeluh terus karena liat punya tetangga atau rekan sekantor.

    Rasa bersyukur menjadi barang langka, dan menjatuhkan gengsi.
    Puji Tuhan , Dia tidak membiarkan kita semakin jauh terbenam dalam tindihan roh kerakusan… dan membimbing hamba2nya menyampaikan Kabar Baik lewat blog ini..

    Shalom. dari Boneo

  9. Dear Ibu Linda,
    selamat datang di Blog ini…dan makasih atas komentar yang diberikan…..
    semoga pesan Ibu bisa membuka hati dan kesadaran banyak orang….. Mari kita merasul dalam doa dan dalam kesaksian hidup agar banyak orang lebih memilih mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka….

    makasih atas doa dan dukungannya…
    ngomong-ngomong nich…Bu Linda mau gak bagi-bagi pengalaman iman dan hidup kepada pengunjung blog ini? Makasih dech atas kesediaannya….gbu

  10. lindanisida says:

    Boleh deh bagi- bagi kesaksian ya… saya baru belajar. internet …jadi maklum2 aja ya…. saya ceritakan disini PERLINDUNGAN TUHAN yang luar biasa terhadap keluarga kami.

    Berpuluh tahun yang lalu ,Saat suami masih bertugas sebagai pegawai negri, sebagai Pengawas Pertambangan masyarakat ,di suatu daerah lagi marak-maraknya pertambangan emas. Masyarakat dari luar berduyun-duyun datang ke pedalaman tempat lokasi emas. Ada sekitar 50 lobang emas yang ditambang disana .Saking banyaknya manusia baik penambang maupun pembeli, siang malam menggali emas, maka malam pun…… terang benderang seperti siang… lengkap dengan warung, … .. toko…..perempuan….. itu pasti kan….. persis separti kota di tengah hutan belantara.

    Satu lobang dalam satu malam emas didapat kurang lebih satu kilogram. Bayangkan siapa yang tidak tergiur…..

    Suatu hari datanglah beberapa orang pejabat , mengajak untuk kerjasama , minta suami menyetujui penggalian hanya untuk satu minggu, untuk beberapa lobang. Bayangkan …..berarti kalau seminggu suamiku dapat jatah ……. 7 kg emas. wowwwww……….

    si Suami yang rendah hati itu langsung bertanya : ” mah ada tawaran, gimana …… ?”,saya menjawab ” pah… saya sudah merasa cukup dengan hidup sederhana seperti ini. Saya gak menuntut macam-macam dari kamu . Gaji dan honor mu yang menjadi hak kamu ,walaupun gak seberapa, itu sudah cukup.Gak usah kuatir kita tidak bisa kaya seperti orang lain “.
    Ibu-ibu pada saingan gelang emas gede-gede ….Tapi hati ini betul-betul tidak tergiur dengan gaya hidup seperti itu.

    .Singkat kata…….., tawaran ditolak.
    Ehhh…..ngak sampai sebulan datang lah utusan dari Jakarta , mendata para Pejabat yang ada mempunyai LOBANG tambang.!!!

    Puji Tuhannnn……. karena bisa dan berani berkata …”TIDAK ” untuk pekerjaan yang bisa menghancurkan karir suami. Maka selamatlah suami saya.

    Sungguh Tuhan tidak mau anaknya yang hidup sederhana terlibat tidak melawan hukum.

    Akhirnya .. empat tahun setelah itu … cobaan demi cobaan bisa kami lalui… maka Tuhan memberi hadiah yang tidak pernah kami minta . yaitu suami diangkat menjadi Kepala Daerah selama dua kali.

    Saya baru mengerti, bahwa Tuhan sebelum memberi sesuatu kepada manusia TEPAT PADA WAKTUNYA TUHAN , melalui serangkaian UJIAN yang berat. Dia test dulu ini orang SETIA, KUAT, TAHAN NAPSU, SABAR…….. ATAU TIDAK,

    Seandainya saat itu, kami, tergiur. emas…., berkeluh kesah karena gaji sedikit, ….cape kerja hasil nya segitu,,dll,,,dll

    Pasti Tuhan ngak jadi mempromosi kan suami menjadi Kepala Daerah.,maklum masih zaman ORBA..

    Saya baru paham I KORintus 2 ayat 9 : “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, tidak timbul dalam hati manusia. Itu yang Allah sediakan bagi orang yang mengasihinDia.”

    Ayat ini saya ingat sampai sekarang,,, dan saya bagikan kepda orang muda untuk hidup sabar, dan benar dihadapan Tuhan,

  11. lindanisida says:

    please berkunjung ke blog saya Fr, Bastian.

    http://lindataway.wordpress.com

    Trimaksih , Shalom, Tuhan memberkati.

  12. Veronica says:

    Shallom Frater dan saudara2 seiman.
    Semasa kuliah dulu, saya aktif dalam kegiatan pelayanan di kaum muda. Sebagai anggota tim pelayanan, setiap minggu kami secara rutin mendapat kesempatan untuk mendengarkan firman, renungan, sharing dan bersekutu bersama. Dalam kondisi serba ideal itu, berkata cukup bukanlah hal yang sulit, karena sungguh kami merasa segala kebutuhan telah dicukupkan oleh-Nya.

    Saya memiliki seorang senior yg saat itu sudah meninggalkan bangku kuliah dan bekerja di Jakarta. Kami masih sering berkomunikasi dan mendukung satu sama lain. Waktu itu dia bercerita bahwa pekerjaannya sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran, meskipun salary yang diterima tidak sebanding. Lingkungan kerja kurang kondusif, pimpinan yang eksploitatif dan segudang permasalahan lain. Ditambah lagi dengan kekhawatiran menghadapi masa depan.

    Melalui e-mail yang saya kirimkan, saya katakan padanya, maaf bukannya sok tahu ataupun mau menggurui, karena saya belum pernah bekerja, maka pemikiran saya masih sangat idealis. Saya membagikan renungan yang saya dengar dalam pertemuan tim.
    Bagainana kita harus selalu berpikir positif dalam menghadapi masalah, jangan mengharap orang lain berubah sesuai harapan kita, melainkan cara pandang kita terhadap masalah yang perlu kita ubah.
    Jika kita setiap hari selalu berpikir bahwa atasan kita akan mengeksploitasi kita, maka ‘jadilah seperti yang kau imani’. Saya tambahkan di e-mail itu, sebagai seorang sahabat, saya ingin mengingatkan, janganlah kita hanya berorientasi pada materi, karena kita tidak akan pernah merasa cukup. Saya berharap, jika suatu saat nanti saya sendiri lupa akan esensi itu, seorang sahabat akan mengingatkannya untuk saya.

    Beberapa tahun telah berlalu.
    Saat ini saya sudah menjalani dunia kerja. Kebutuhan hidup dan impian masa depan yang lebih baik membuat saya lebih sulit untuk berkata cukup. Beberapa hari yang lalu, saya menghapus email2 lama dalam inbox dan sent item saya. Tak disangka, ternyata email lama yang pernah saya kirim untuk teman saya ternyata masih ada di sana. Puji Tuhan, seorang SAHABAT telah mengingatkan saya kembali untuk lebih bersyukur dan berkata ‘cukup’.

    Semoga Tuhan selalu menuntun langkah kita semua. Amin.

  13. Dear Veronica,
    selamat datang di blog ini… n makasih atas sharing pengalamannya….
    saya setuju dengan Veronica mengenai prioritas dalam hidup. Meteri bukan segala-galanya. Ada hal yang lebih penting dari materi hehehehe…….

    saya sangat kagum dengan Anda yang berani peduli dengan orang lain…teruslah jadi berkat bagi orang lain ya..
    aq doain…
    gbu

  14. Dear Ibu Linda,
    saya sudah kunjungi blognya yang bagus…..maaf blm ninggal pesan ya…ntar blog ibu saya link di blog ini…
    gbu

  15. lindataway says:

    selamat malam ……boleh gak Frater saya minta ijin ngepost artikel ini, Bagus sekali. tq.

  16. babababa says:

    Ter, maaf aku submit blank comment
    ni mo ngganti ID soalnya
    Thx a lot

    Tina

  17. fotofototour says:

    Frater.. minta ijin untuk tambahkan blog ini ke dalam link saya ya frat..
    kalau berkenan bisa mampir ke tempat saya: http://fototour.co.cc

  18. fotofototour says:

    Frater terkadang kita dikondisikan oleh dunia untuk berkata belum cukup… kita harus mempunyai impian yang besar. jika kita berkata cukup, kita tidak akan bergerak semakin maju. Ini terkadang membingungkan bagi saya secara pribadi. Seperti kisah nelayan yang menikmati suasana pantai yang tenang di atas ayunan, lalu datang pengusaha. Pengusaha (P) Bercakap dng nelayan (N)
    P: Apa yang sedang anda lakukan?
    N: sedang menikmati hidup
    P: anda bersantai santai saat ini, kalau anda bekerja lebih keras anda bisa mendapatkan ikan lebih banyak
    N: lalu untuk apa ikan itu.
    P: anda bisa jual ikan lebih banyak ..sehingga mendapatkan uang lebih banyak
    N: lalu untuk apa uang yang banyak itu?
    P: anda bisa gunakan untuk membeli perahu yang lebih besar
    N: Lalu untuk apa perahu itu?
    P: anda bisa melaut lebih jauh dan mendapatkan lebih banyak lagi ikan..
    N: lalu untuk apa ikan lebih banyak lagi?
    P: anda bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi dan menambah lebih banyak perahu, mempunyai perusahaan pelayaran dan akhirnya anda bisa pensiun dan menikmati hidup dengan bahagia,
    N: Lalu apa yang sedang saya lakukan saat ini?

    Frater..Terkadang kisah ini mengganggu benak saya…
    mungkin ada advice dari frater mengenai hal ini?
    trims ter.. GBU

  19. Dear Alberto Correia
    selamat datang di Blog ini…wah saya sangat senang saudara Alberto dari Timor Leste mengunjungi blog ini…
    terima kasih atas komentarnya ya….

    saya mau minta tolog nich… kalau ada pengalaman iman dan hidup dari saudara Alberto…tolong dibagika kepada pengunjung blog ini ya…mereka pasti sangat senang dan rindu tentang pengalaman iman dan hidup dari Timor Leste….

    kami sangat menantikannya…dan terima kasih ya….

    Tuhan memberkati Suadara!!!

  20. Dear Bu Linda,
    met pagi Bu, dengan senang hati, saya mengizinkan Ibu mem-posting artikel di blog ini…sukses ya…n gbu

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!