KEBAIKAN DAN KETULUSAN HATI
Suatu hari aku sengaja mampir di salah satu Plaza di Malang. Waktu di arloji saya menunjukkan pkl. 17.15 WIB. Di depan Plaza itu aku bertemu dengan seorang ibu, yang dulunya seorang pemulung dan sekarang menjadi pengemis. Ibu ini sangat dekat dengan kami (teman-teman dan aku sendiri). Setelah sekian lama tidak bertemu dengan dia, aku sangat kaget dengan kondisi tubuhnya. Dia mulai kurus dan tangan kanannya tidak berfungsi dengan baik karena lumpuh. Raut wajahnya semakin keriput. Sengatan sinar matahari semakin membuat tubuhnya menjadi gosong! Namun, dia masih memiliki daya ingat yang cukup tajam.
Perjumpaan dengan Ibu ini menoreh kenangan indah yang tak terlupakan. Bagaimana mungkin melupakaan doanya agar aku setia dalam menjalani pilihan hidupku: “Ibu selalu mendoakan kalian semoga jadi Romo. Jangan keluar ya, seperti si …. (dia menyebutkan nama-nama teman yang sudah keluar!). Tidak hanya berhenti pada doa itu! Tetapi, walaupun hidupnya tergantung pada kebaikan orang lain, dia masih menawarkan uang hasil ngemisnya kepada saya untuk ongkos pulang , walaupun kemudian aku menolaknya secara halus. Betapa baik dan tulusnya Ibu ini! Ketika banyak orang sibuk berbicara tentang bagaimana mendapatkan uang yang banyak, Ibu ini memilih untuk melepaskan apa yang dimilikinya. Apa yang dilakukan ibu ini adalah sebuah teguran bagi para pemimpin yang sibuk mengurus kepentingannya sendiri. Kaum religius, yang memiliki cita-cita melepaskan segala sesuatu untuk mencari Kerajaan Allah, juga tidak bisa melepaskan diri dari teguran seorang Ibu yang sederhana ini!
Karena hari sudah hampir malam, saya meminta izin untuk pulang. Setelah sampai di kamar dan merenungkan kembali pengalaman bersama dengan Ibu itu, saya percaya bahwa kebaikan dan ketulusan hati adalah milik siapa saja dan tidak mengenal status sosial. Mereka yang dianggap sampah dan tak berdaya dalam masyarakat pun memiliki keagungan jiwa yang luhur. Mengapa mereka memiliki keagungan jiwa ini? Tidak lain karena mereka memiliki kesadaran akan hidup ini sebagai anugerah Tuhan. Karena hidup ini adalah anugerah Tuhan, mereka senantiasa bersyukur atas apa yang mereka terima dengan penuh kerendahan hati.
Betapa saya menjadi orang yang berbahagia karena Ibu itu mengajarkan saya bahwa “hanya orang yang senantiasa bersyukur atas hidupnya yang mampu mengekspresikan keagungan jiwa (kebaikan dan ketulusan hati).” Aku bersyukur atas pengalaman ini dan aku pun akan berusaha belajar dari Ibu itu tentang kebaikan dan ketulusan hati. (Rm. Bastian, CM)


