Kedua Guruku itu mengajarkan: ”Allah Itu …..”
November 12, 2008 by Rm. Bastian-Wawan CM
Filed under kesaksian
Sudah lama aku tidak melakukan kunjungan ke beberapa orang miskin yang sudah kukenal dan kulayani sejak masa Seminari [masa novisiat]. Begitu banyak kesibukan tugas dan tanggung-jawab yang membuat aku kurang melakukan kunjungan dalam arti yang sesungguhnya. “Kunjungan” yang kumaksudkan adalah kunjungan ke rumah-rumah orang miskin dengan tujuan untuk saling berbagi rasa dan pengalaman, yaitu pengalaman suka maupun duka, pengalaman pergulatan hidup mereka sehari-hari. Kunjungan yang sangat aku sukai yaitu saat-saat aku “duduk tenang dan damai” bersama-sama dengan orang-orang miskin, yang sekaligus juga adalah guruku dan keluargaku, untuk menjadi “pendengar yang baik & setia”, sekaligus menjadi “sahabat dan saudara” yang selalu siap sedia memberi semangat dan dukungan, di istana mereka yang sangat sederhana, yaitu satu atau dua petak rumah gubuk bambu mereka, namun penuh dengan ketulusan, keterbukaan, dan kedamaian.
Hari ini aku sungguh-sungguh menjadwalkan secara khusus agar aku dapat berkunjung ke rumah “mbah Imah dan mbah Inah”, apalagi sembako bulanan milik mereka belum diambil-ambil juga dari Susteran. Ada sesuatu yang mengusik hatiku, mungkin mereka sakit sehingga tidak dapat berjalan ke susteran untuk mengambil sembako itu. Mbah “Imah” dan mbah “Inah,” adalah dua nenek kakak beradik yang ditinggal mati oleh suami mereka, namun tidak mempunyai anak. Sanak saudara mereka yang tinggal di luar kota atau di luar pulau hidup sangat pas-pasan, sehingga tidak mungkin diharapkan untuk selalu memberi kiriman uang setiap bulannya. Keponakan mereka yang ada di Kediri pun ternyata juga hidup berkekurangan. Meskipun demikian, mereka berdua yang sudah tua ini tidak mau sekedar menadahkan tangan meminta bantuan kesana-kemari, tetapi dari uang tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, mereka berjualan sedikit rokok serta camilan seperti kacang goreng dan permen. Selama mereka merasa sehat dan badan mereka tidak sakit atau linu, mereka terus berjualan, tak perduli hari sedang hujan deras sekalipun. Tak heran para pembeli yang datang membeli rokok atau camilan kepada kedua simbah ini tidak pernah meminta uang kembalian mereka, sebagai rasa kagum dan simpati yang mereka tunjukkan atas kegigihan mbah berdua ini dalam menjalani hidup dengan penuh semangat, tanpa mengeluh, karena yakin Tuhan itu Mahamurah dan adil.
Dengan membawa makanan yang bisa mereka santap sebagai lauk makan siang, aku pun bersepeda ke rumah kedua simbahku ini, yang memang tak jauh dari rumah susteran. Begitu sampai di pintu rumah mereka, aku disambut layaknya cucu mereka sendiri yang sudah lama tidak datang berkunjung. Banyak hal yang diceritakan oleh mereka berdua dengan penuh antusias dan tak ada putus-putusnya secara bergantian, sampai-sampai sulit rasanya bagiku untuk bisa angkat bicara sebentar saja, sekedar menanggapi cerita pengalaman hidup mereka yang begitu sederhana, tetapi begitu banyak rahmat Allah yang hadir di dalamnya.
“Kulo sampun bolak-balik tibo ana ping sepuluh, Ning..tapi nggih Gusti Allah niku kok paring, wong sirah kulo niki getihen akeh sampek gak mandeg-mandeg, nanging dak pangani obat saanane.. kok getihe banjur bisa mandeg dhewe…” begitu laporan mbah “Inah” dengan bahasa Jawanya yang kental kepadaku dengan penuh kepolosan. (Saya ini sudah jatuh berulang-ulang, Ning, tetapi Tuhan itu kok selalu baik dan murah hati. Padahal waktu jatuh kepala saya ini sampai berdarah banyak dan terus mengalir tak berhenti-berhenti juga. Lalu saya minum obat seadanya, eh..kok darahnya terus bisa berhenti sendiri..”)
Aku memang biasa dipanggil “Ning” oleh mereka, karena mereka belum mengerti sungguh kalau aku ini seorang Suster, mereka hanya tahu aku orang muda yang sayang dan mempunyai perhatian dengan keadaan mereka. Mendengar cerita itu aku menahan tangisku… betapa kedua orang tua ini harus berjuang sendiri dalam hidup mereka sehari-hari yang penuh keterbatasan dan kekurangan; namun sungguh mereka terus berjuang untuk bertahan hidup dengan hanya mengandalkan kemurahan Allah karena mereka memang sungguh-sungguh mengimani itu.
Kudengar mbah “Inah” berkata lagi,” Gusti Allah niku pancen langkung adil, Ning. Dados kulo kaliyan mbah Imah boten nate kuatir napa-napa, amargi Gusti Allah niku ngertos sanget napa mawon kebutuhanipun simbah. Wong tiyang urip niku ingkang mesti nggih namung mati, dados boten perlu tumindak ingkang mboten-mboten wonten donya niki… Sasate sadaya manungsa niku namung wayang, lha dalange niku Gusti Allah, dados nggih nurut mawon kersane Gusti Allah ingkang damel urip, ingkang ngatur lan nglakokaken uripe kita sedaya…”
(Allah itu memang selalu bertindak adil, Ning, jadi saya dan mbah Imah tidak pernah khawatir apa-apa, sebab Allah tahu benar apa saja yang menjadi kebutuhan kami berdua. Orang hidup itu yang pasti hanyalah mati, jadi tidak usah berbuat yang tidak-tidak di dunia ini.. Sebab semua manusia itu cuma seperti wayang dan dalangnya adalah Allah sendiri, jadi ya, sebaiknya menurut saja apa yang menjadi kehendak Allah yang membuat hidup kita ini, yang berhak mengatur dan menjalankan kehidupan kita semua.)
Begitu banyak hal-hal indah dan sungguh bermakna tentang “Allah” dan “kehidupan” yang diajarkan oleh kedua mbah ini. Aku yakin Tuhan hadir di dalam diri mbah Inah saat itu agar aku dapat belajar kembali sesuatu tentang hidup ini, agar aku dapat mengingat kembali bagaimana Allah harus dihidupi melalui pengalaman hidup sehari-hari yang begitu sederhana, dan penuh tantangan serta kesulitannya masing-masing, sebab pada saat itulah rahmat Allah terus-menerus tercurah ke dalamnya.
Kukayuh pulang sepedaku perlahan-lahan dengan penuh rasa syukur, sebab hari ini kudapatkan suatu pelajaran berharga dari kedua guruku itu yang terus mengiang-ngiang di telingaku,”Allah itu adil… jadi, tidak perlu cemas menjalani hidup ini, sebab Dia tahu benar apa yang kita butuhkan…Kita manusia ini cuma wayang, dan Allah-lah dalangnya..” Kulihat lagi ke dalam diriku sendiri,….ya…. betapa sering aku cemas saat tugas dan kewajibanku bertumpuk-tumpuk, padahal Allah selalu bersama aku dan tahu benar apa yang menjadi kebutuhanku. Betapa hidup ini harus dijalani bukan seperti apa keinginan dan mauku, tetapi aku harus mencari apa yang Allah mau untuk kulakukan dan itu semua baru dapat kutemukan jika aku menjalani hidup dengan cara pikir yang begitu sederhana seperti yang dihidupi oleh mbah Inah dan mbah Imah.
Kuingat lagi apa yang diajarkan oleh Santo Vinsensius kepada para Suster Puteri Kasih,”Orang-orang miskin adalah guru kalian yang memberi khotbah hanya melalui kehadiran mereka.”
Catatan “Kunjungan Orang Miskin”
Sr. Mayang, PK
Minggu, 9 November 2008





……Akhirnya saya semakin sadar bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai dalam setiap langkah hidupku, mohon ampun Tuhan Yesus kalau selama ini tidak tahu berterimakasih padaMu ….Terima kasih atas artikelnya.