LAKI-LAKI HITAM BERRAMBUT KERITING
April 11, 2010 by Rm. Bastian, CM
Filed under kesaksian
Oleh: Pastor Mans Werang, CM (seorang misionaris Kongregasi Misi yang melayani Suku Awin, Papua New Guinea)
Wajah anak itu hanya tersenyum kaku diantara anak-anak yang lainnya. Raut mukanya sangat berbeda dengan anak-anak di kampung Grehosore. Ketika anak-anak sedang tertawa karena lucu, dia hanya berdiri mematung dan diam saja. Mungkin dia tidak mengerti bahasa dari anak-anak Awin itu. Kataku dalam hati. Kulit tubuhnya berbintik, dan bersisik sepertinya dia mengidap penyakit sapoma. Tatkala anak-anak mulai bermain lagi, dia hanya mengikuti saja, tetapi dia hanya berdiri saja sepertinya dia bingung dengan apa yang harus dikerjakan dan dikatakannya.
Mataku masih memandang anak itu yang tampak sangat berbeda dari anak-anak lainnya yang saya kenal dan tahu wajah mereka. Seorang ibu datang mendekatiku dan berkata bahwa anak itu adalah Jonathan yang ditemukan Erick, suaminya di kota Kiunga dan dibawa ke rumah kami untuk dirawat.
Merasa dicintai
Jonathan adalah anak yatim piatu. Ayah dan ibunya meninggal dunia tatkala dia masih duduk di bangku kelas lima. Tidak ada orang lain yang dapat membiayai pendidikannya dan kedua adiknya. Lalu ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan tinggal saja di kampung Nomed mencari Sagu dan pisang untuk kedua adiknya. Suatu saat, dia mengikuti orang-orang di kampungnya pergi ke kota Kiunga. Ia tidak memiliki uang, dan hanya pakaian yang melekat di tubuhnya. Berbekal nekat dan keingintahuan tentang bagaimana kota Kiunga, ia memutuskan untuk menempuh perjalanan selama tujuh hari bersama dengan orang-orang dari kampungnya. Tatkala malam tiba, mereka tidur saja di tengah hutan atau di kampung di mana mereka ingin untuk beristirahat. Tidak ada jalan penghubung antara Nomed dan kota Kiunga, satu-satunya sarana yang paling gampang adalah pesawat, tetapi juga membutukan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi pesawatpun kadang tidak menentu kapan harus terbang, dan kapan datang ke Nomed. Pesawat kecil milik penerbangan Kristen Protestan memiliki semboyan fly anytime anywhere. Maka satu-satunya sarana yang murah, tetapi penuh tantangan adalah berjalan kaki. Ketika Jonathan tiba di Kiunga, ia mulai binggung, karena tidak ada kenalan dan keluarga yang tinggal di Kiunga. Segala sesuatu yang ingin dimakan hanya didapat bila ia mempunyai uang. Sementara itu dia tidak mempunyai apapun juga, maka dia meminta dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Kadang dia mendapat makanan, tetapi kebanyakan kali dia pergi tidur dengan perut kosong. Setiap hari dia pergi dari satu toko ke toko yang lain mengharapkan ada orang yang berbelaskasih untuk menopang hidupnya di Kota Kiunga. Badannya mulai kurus, dan bersisik karena penyakit sapoma yang dideritanya dengan pakaian yang sama saja tetap melekat di tubuhnya. Tidak ada satupun yang menghiraukan kehadirannya, apalagi tidak banyak orang yang mengenal hidupnya. Kisah Erik kepada saya.
Suatu saat, Erik datang ke Kiunga dan hampir setiap saat dia melihat dan bertemu dengan Jonathan. Matanya selalu memandang pada Jonathan, lalu dia berusaha mendekatinya dan berbicara kepadanya. Digerakkan oleh rasa belaskasihan, Erick membawanya ke kampung halamannya. Erick bersama Istrinya perlahan-lahan membersihkan tubuhnya, memandikannya dan mencari obat untuk menyembuhkan penyakit sapoma yang diderita oleh Jonathan. Sedikit demi sedikit penyakit kulitnya mulai sembuh, Erick menerimanya sebagai anggota keluarga, tinggal di rumahnya bahkan ia menyekolahkan Jonathan untuk melanjutkan pendidikannya di kelas lima. Semuanya dia lakukan karena dia ingin Jonathan merasa dicintai dan diterima. Katanya lebih lanjut kepadaku.
Arbet Nolan di dalam bukunya (“Hope in age of Despair, Orbis Books, 2009) menulis tentang empat tahap pelayanan terhadap orang miskin. Tahap pertama adalah tahap belas kasih dan karya amal. Pada tahap ini, ketika kita melihat orang miskin, membuat kita merasa belaskasihan dan keinginan yang besar untuk mengurangi penderitaan mereka. Kita bertindak sebagai penderma. Tahap kedua adalah tahap dimana kita mencoba melawan melawan struktur yang tidak adil dalam masyarakat. Kita menyadari bahwa kemiskinan berasal dari struktur yang tidak adil dalam masyarakat. Melihat realitas ini membuat kita marah dan keinginan untuk melakukan sesuatu karena orang miskin adalah kurban dari struktur yang tidak adil. Kita berusaha melalui berbagai gerakan dan cara agar orang miskin mendapat ruang dan tempat di hati masyarakat. Tahap ketiga adalah tahap di mana kita melihat dan menemukan kekuatan dan kemampuan dari kaum miskin sendiri. Kaum miskin memiliki potensi untuk mengubah hidup mereka dan kemampuan untuk membantu sesamanya agar dapat keluar dari bentuk kemiskinan mereka. Pada tahap ini karya kita seharusnya menolong mereka menjadi pelaku perubahan. Tahap keempat adalah tahap merasa setia kawan dengan orang miskin, menerima mereka sebagai bagian dari hidup kita, dan berjuang bersama mereka. Kehadiran kita bukan lagi penderma, atau melihat orang miskin sebagai pribadi yang tidak mampu, tetapi menerima mereka sebagai kawan, tuan dan majikan kita. Disinilah bentuk solidaritas kita dengan orang miskin.
Menjadi terang
Erick dianugerahi dua orang anak yang masih kecil. Ia hidup sangat sederhana dan tinggal di rumah yang Sangat sederhana pula. Ia hanya mengandalkan hidupnya dari hasil kebun dan pohon karet. Akan tetapi teladan hidupnya memberikan makna hidup yang indah terhadap orang lain. Kedalaman hidupnya menunjukkan bahwa ia mampu menghayati pelayanan terhadap orang miskin. Mungkin dia tidak mengerti apa yang dikatakan dengan pilihan yang berpihak pada orang miskin, tetapi pengalaman hidupnya menujukkan bahwa pilihannya sudah pada tahap solidaritas, menerima Jonathan menjadi bagian dari keluarganya.
Apakah tidak merepotkanmu untuk menerima Jonathan sebagai bagian dari keluargamu, sementara kamu harus menghidupi keluargamu sendiri? Tanya saya kepadanya. Inilah bentuk kesetiakawanan kita kepada anak-anak yang terlantar. Yang kami lakukan ini bukanlah hal yang besar, kami hanya mencoba menyelamatkan hidup Jonathan dari ketidakpastiaan hidupnya agar menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Kami tidak meminta Jonathan untuk membalas kebaikan kami, tetapi mungkin suatu saat anak-anak kami dari kampung ini juga akan mengalami nasib yang sama karena ketidakpastiaan, dan mungkin orang lain dari tempatnya akan memperlakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan.
Tatkala saya pamit pulang ke pastoran, saya masih ingat kisah Erick tentang penghayatannya menjadi orang kristiani, sederhana tetapi sungguh sangat mendalam karena solidaritasnya terhadap Jonathan. Mungkin Erick mengerti menjadi orang kristiani sejati artinya menjadi garam dan terang bagi orang lain. Saya ingat kembali raut mukanya yang ceriah dan gembira tatkala dia berkisah tentang Jonathan sebagai bagian dari keluarga mereka. Saya ingat pula wajah dan kulitnya yang hitam dan rambutnya yang keriting, dan dialah yang saya maksudkan dalam judul kisah ini, laki-laki hitam berambut keriting. SELAMAT PESTA PASKAH 2010





Sampai detik ini, setiap kali saya melihat orang yang jauh lebih miskin (saya merasa miskin dalam hal ekonomi, tapi syukurlah tidak kekurangan cinta) lalu timbul belas kasihan. Tetapi selalu saya lalu sedih sekali karena tidak pernah bisa membantu karena keterbatasan saya.
Saya selalu tidak pernah puas akan hasil yang sudah diterima, tetapi ketika melihat mereka lalu saya berharap Tuhan selalu memaafkan saya karena hampir selalu mengeluh akan kekurangan saya.
Terima kasih ya Mo Wawan ‘tuk berbagi cerita ini.
Mengharukan n menakjubkan sekali cerita tntng laki” berambut kriting diatas, justru kasih Allah nampak nyata dlm diri erik. meskipun dia orng miskin tp ia mampu memberikan teladan bagi umat kristiani unk berkarya n melayani serta mampu berkorban bagi kaum miskin. kita aja yg pny segalanya masih sering berkeluh kesah terhadap Bapa, sedangkan erik mampu memberikan sesuatu yg besar dng keadaannya yg sangat terbatas….semoga hati kita tergerak oleh kasih n membuat perubahan meskipun dng keterbatasan kita yg ada. JBU
Makasih Buat Kisah ini Romo…
Ceritanya sungguh menyentuh hati…