Wednesday, February 22nd, 2012

“Meskipun hanya dua orang, kita tetap merayakan perayaan ekaristi”

0

(diamsejenak.com) :  Perjalanan yang ditempuh sangat jauh. Umat yang akan menghadiri perayaan ekaristi belum pasti jumlahnya. Kadang-kadang, jumlah umat hanya sedikit. Siapa yang tidak kecewa? Tetapi, Bagi Rm. Mans, CM (misionaris CM di PNG):  “Meskipun hanya dua orang,  kita tetap merayakan perayaan ekaristi”.  Semoga kisah pemberian diri yang total ini menjadi inspirasi bagi pembaca diamsejenak.com dalam pelayanan.

*******

Sambil duduk dibawah pohon sagu, dia meletakkan rangsel dan satu botol air yang sudah  kotor. Tampak beberapa potong rumput dan genangan tanah di dasar botol tersebut. Rasa haus tak tertahan lagi, sementara sinar matahari semakin menyengat, dan perjalanan masih jauh harus ditempuh. Segera dia mengambil tisu untuk membersikan air ke dalam sebuah botol yang sudah kosong, namun tidak berhasil. “tidak ada pilihan kawan, kita harus minum air ini, karena saya juga merasa sangat haus”, kataku mencoba meyakinkan dia. Ia lalu mengambil bajunya dan menyaringkan air yang kotor itu ke dalam botol kosong. Sisa tanah dan rumput tertahan di dalam bajunya sedangkan air dapat  masuk ke dalam botol itu, meskipun airnya  tidak terlalu bening.

Sambil tersenyum dia berkata kepadaku bahwa tidak masalah, kita minum saja air ini, namun akan dicampur dengan sirup sehingga berubah warna menjadi kuning dan manis. Kami berdua akhirnya menikmati minuman itu sambil tertawa. Setelah duduk menikmati air itu dan sudah tidak berkeringat lagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Mohomnai. Perjalanan itu biasanya ditempuh selama delapan jam. Kira-kira dua jam lagi kami harus berjalan kaki untuk mencapai Kampung Mohomnai. Sementara itu, katekis kami, bapak Joseph sudah jauh meninggalkan kami. Saya mencoba memperhatikan jam di tangan saya, sudah menunjukkan jam 2 siang, sinar matahari semakin menyengat, padahal kami harus mendaki beberapa bukit. Saat itu saya merasa sangat lelah dan rasa haus lagi, namun kami tidak mempunyai air untuk minum.

Saya meminta temanku untuk  beristirahat sejenak. Saya meletakkan rangsel saya yang berisikan beberapa potong pakaian, perlengkapan misa dan bekal makanan. Tanpa sengaja saya memperhatikan di dalam perlengkapan misa ada dua botol kecil berisikan anggur dan air. Dua botol kecil itu digunakan untuk mempersembahkan perayaan ekaristi di kampung Mohomnai. Saya mencoba menawarkan bagaimana kalau kita minum air dan anggur hanya seteguk saja. kami berdua setuju. Akan tetapi kami memutuskan hanya meminum air saja. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Mohomnai. Kami baru tiba di kampung itu jam 4 sore, tampak hanya beberapa anak kecil. Suasana kampung itu sepi. Beberapa saat kemudian, bapak Gerard, pemimpin umat datang menemui kami dan mengantarkan kami untuk beristirahat di sebuah rumah kecil milik seorang guru yang sudah lama tidak dipakai, karena kondisi rumahnya yang sudah agak rusak.

“Sudah beberapa minggu ini, kami berusaha untuk mengumpulkan umat, namun mereka semua tidak berada di tempat”. Katanya mencoba menjelaskan kepada kami mengapa kampung itu tampak sepi. Saya hanya diam saja. “ Bagaimana kalau kita batal saja perayaan ekaristi besok, karena tidak ada umat’. Tanya dia lebih lanjut kepadaku. “Meskipun hanya dua orang kita tetap merayakan perayaan ekaristi besok”. Kata saya kepadanya. Teman saya hanya diam saja, dan memilih membaringkan diri di dekat tungku api yang sangat kotor.

Beberapa saat kemudian, istri bapak Gerard  datang membawa sebotol air dan pisang masak untuk kami. Bentuk dan rupa botol itu sangat kuning, tampak berlumut. Kelihatan sekali airnya sangat kotor. Temanku memandang saya lagi sambil tersenyum. Saya berkata kepadanya bagaimana kalau kita masukan air ini ke dalam botol kosong, dan dicampur dengan sirup ke dalamnya. Sambil tersenyum, temanku mengambil dan memasukkannya kembali. Kini air itu berubah warna dan menjadi sangat manis. Kami menikmati air itu, meskipun kami mengetahui air itu sangat kotor.

Malam itu, kami memilih tidak memasak nasi, hanya makan pisang dan tidur, karena rasa lelah setelah perjalanan yang sangat jauh. Keesokan harinya kami mempersiapkan diri untuk merayakan perayaan ekaristi di sebuah gedung sekolah dasar yang sangat sederhana. Hanya tujuh orang saja yang menghadiri perayaan ekaristi. Meskipun demikian saya melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah mereka. Salah satu Katekis yang ikut dengan kami berkata kepadaku “kita hanya membuang waktu dan tenaga percuma saja, karena hanya menemui tujuh orang di kampung ini”. Seandainya kita tahu hanya tujuh orang, untuk apa kita datang ke kampung ini”. Katanya dengan nada penyesalan. Saya diam sesaat dan setelah itu berkata kepadanya meskipun tujuh orang, mereka juga mempunyai hak untuk dilayani. Bukankah kehadiran kita sudah memberi warna lain bagi hidup mereka? Tanya saya kepadanya. Ia tidak menjawab pertanyaan saya, namun memilih diam saja.

Saya dapat mengerti pertanyaan dan nada penyesalan mengapa kami datang ke kampung Mohomnai, karena perjalanan jauh yang ditempuh. Selesai perayaan ekaristi kami duduk bersama dan mendengarkan sharing dan katekese tentang iman katolik dalam bahasa daerah mereka oleh katekis kami, setelah itu kami masak dan makan bersama. Terasa sekali indahnya persaudaraan hari itu.

Saat sedang makan bersama, bapak Gerard bercerita kepada kami bahwa sekarang banyak orang tidak berkumpul bersama untuk berdoa, karena kurangnya komitmen dari para pemimpin untuk membawa umat hidup dalam iman kristiani. Selain itu, umat menyebar ke mana-mana karena ketergantungan mereka pada alam untuk mencari makanan. Saya hanya diam saja dan tidak menanggapi apa yang dikatakan bapak Gerard.

Keesokan harinya saat kami pulang dan tiba di tempat kami tinggal, kami diundang makan di tempatnya suster. Setelah makan, kami langsung pergi ke tempat tidur untuk melepaskan lelah. Saat itu, saya hanya pingin cepat tidur, namun masih ingat perjalanan jauh dan hanya menemui tujuh orang saja. Ada perasaan kecewa;, mengapa perjalanan begitu jauh dan hanya menemui tujuh orang saja. Umat sekarang tidak tertarik lagi untuk berkumpul bersama, berdoa bersama. Hampir di semua kampung mengalami hal yang sama. Pikirku dalam hati kecil saya. Apa yang harus dilakukan? Situasi sangat berubah sekarang ini. Saya tidak tahu jawabannya. Pada saat itu, saya ingat Paus Yohanes XXIII  pada tahun 1960, terjadi krisis yang sangat besar di dalam hidup imamat, hidup religious, hidup perkawinan, hidup beriman dan hidup mengereja. Paus Yohanes XXIII bekerja dengan keras dan mencoba memikirkan jalan keluar akan persoalan-persoalan itu. Akhirnya dia pergi ke Kapel pribadinya untuk berdoa brevir. Namun, karena terlalu lelah, dia tidak dapat fokus pada doanya. Beberapa saat berdoa, dia berdiri dan berkata “ Tuhan, Gereja dan umat  adalah milikmu, saya akan akan pergi tidur”.

Sambil membaringkan diri di atas tempat tidur, saya berpikir, persoalan dan tantangan selalu kita alami dalam pelayanan kita. Krisis iman dan hidup terjadi di mana-mana, dan sepertinya tak ada jalan keluar, meskipun beberapa upaya telah dilakukan. Namun saya ingat doa yang dikatakan oleh Paus XXII yang berkata umat dan gereja ini adalah milik Tuhan, kita cuma alat Tuhan saja untuk melanjutkan karya perutusan Tuhan. Berhasil atau tidak, kita serahkan semuanya kepada Tuhan. Setelah itu saya lelap dalam tidur saya.

 

 


About Rm. Sebastianus W

Rm. Bastian, CM Rm. Sebastianus W. Bu'ulölö, CM biasa dipanggil Rm. Bastian. Imam Kongregasi Misi (CM). Dlahirkan di Teluk Dalam - Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Formator untuk calon imam di Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo - Keuskupan Surabaya yang terletak di Garum - Blitar, Jawa Timur. Pemilik blog http://diamsejenak.com. Untuk hal lain, kontak via E-mail: bastiancm@diamsejenak.com; Twitter: @diamsejenak; Facebook: http://www.facebook.com/Romo.Sebastian.CM


Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!