[RENUNGAN] Jumat 19 Maret 2010
March 19, 2010 by Rm. Bastian, CM
Filed under renungan hari ini
Matius 1:16.18-21.24a
Hari Raya St. Yusuf, Suami Maria
Kemarin malam, saya membaca Majalah Hidup. Pada halaman “iklan khusus”, saya menemukan iklan lowongan pekerjaan sebagai guru yang dibuat oleh Seminari di mana saya bertugas. Saya membaca kualifikasi yang harus dimiliki oleh calon guru. Kualifikasi yang diminta pihak seminari dan menarik bagi saya adalah (5) memiliki integritas, daya juang, dan berani menghadapi tantangan, (6) memiliki visi sebagai pendidik, dan (7) memiliki semangat untuk belajar terus menerus. Kualifikasi-kualifikasi inilah yang akan menentukan apakah calon guru layak menjadi pengajar para calon imam.
***
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santo Yusuf, Suami Maria Bunda Yesus. Secara khusus Gereja memberi penghormatan kepada-Nya. Ada apa? Penghormatan yang diberikan kepada St. Yosef tidak lepas dari pribadi Yesus sendiri yang adalah Penyelamat manusia. Sebagaimana Maria, Ibu Yesus mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah dengan bersedia menjadi Ibu Yesus, St. Yusuf pun melakukan hal yang sama. Dia mau menjadi ayah “biologis” Yesus walaupun bukan hasil hubungan intimnya dengan Maria, tunangannya. Di tengah krisis antara meneruskan atau memutuskan ikatan pertenungan dengan Maria setelah peristiwa Maria mengandung di luar hubungan intim suami-istri, St. Yusuf masih mendengarkan kehendak Allah terhadap hidupnya. Dia tidak cepat mengambil keputusan. Melalui Malaikat di dalam mimpi, Allah mengehendaki dan sekaligus memanggil Yusuf untuk menjadi “ayah” dari Yesus, Sang Penyelamat. Yusuf pun melaksanakan kehendak Allah itu. Dia menyerahkan seluruh hidup dan keputusannya di tangan Allah.
Mengapa Allah memilih Yusuf dan bukan laki-laki lain pada zaman itu? Karena di samping sebagai keturunan dari para tokoh Israel yang diberi janji oleh Allah, St. Yusuf adalah seorang pribadi yang tulus, beriman, dan mau menerima kepercayaan dari Allah. Itulah kualifikasi yang dimiliki oleh St. Yusuf sehingga dipilih oleh Allah sebagai ayah “biologis” Yesus. Belajar dari sejarah panggilan St. Yusuf, kita dapat mengatakan bahwa dalam mewujudkan karya keselamatan-Nya, Allah tidak memerlukan kehebatan dan kesuksesan dari seseorang. Dia tidak menentukan kualifikasi yang luar biasa dari seseorang. Tetapi, Dia hanya meminta ketulusan, iman, kesetiaan, dan mau menerima panggilan-Nya.
Masing-masing dari antara kita dipanggil oleh Allah untuk ambil bagian dari sejarah keselamatan-Nya. Melalui tanggung jawab yang saat ini kita emban, Allah memanggil kita untuk menghadirkan karya keselamatan. Sekecil apapun tanggung jawab yang kita miliki, kita bisa menjadi sarana keselamatan bagi orang lain. Seperti St. Yusuf, dia menjadi sarana rahmat bagi orang lain dengan menjadi “ayah biologis” dari Yesus. Apabila kita menghayati tanggung jawab yang saat ini kita emban sebagai sebuah panggilan dan dengan ketulisan, iman, dan kesetiaan pada kehendak Allah, maka kita akan menjadi sarana rahmat bagi orang lain yang hadir dalam hidup kita. Ayah akan menjadi sarana rahmat bagi anak-anak jika dia menjadi ayah yang baik; demikian juga tanggung jawab yang lain. Oleh karena itu, marilah kita menghayatai setiap tanggung jawab sebagai sebuah panggilan dari Allah untuk menghadirkan Yesus Kristus dan keselamatan-Nya. Janganlah pernah lari dari panggilan Allah, bahkan di saat-saat sulit dan tampaknya tidak ada harapan. Selamat Hari Raya St. Yusuf, Suami Maria! (Rm. Bastian, CM)




