[RENUNGAN] Kamis, 18 Februari 2010
Lukas 9:22-25
Peringatan Beato Fransiskus Regis Clet
Dalam Injil hari ini Yesus berbicara tentang hidup dan mati. Dia mengawali pembicaraan ini mengenai apa yang akan terjadi pada diri-Nya sendiri. Dia akan mengalami penolakan dari para pemimpin agama Yahudi. Dia akan mengalami sengsara yang mengerikan dan bahkan mengalami kematian. Segala apa yang dialami-Nya tidak lain adalah konsekuensi dari pilihan hidup-Nya. Dia hendak membawa kehidupan bagi dunia. Tetapi kehendak baik yang hendak diwujudkan oleh Yesus tidak akan sia-sia bersama dengan kematian-Nya. Mengapa? Karena Dia akan mengalami kebangkitan. Dia akan mengalahkan maut yang menakutkan.
Salib yang akrab dengan hidup Yesus juga menjadi bagian dari hidup setiap orang yang hendak mengikuti Dia. Seorang murid tidak bisa melepaskan diri dan hidupnya dari apa yang akrab dengan hidup Yesus yakni salib. Seorang murid tidak layak bagi Yesus jika menolak salib dan tidak mau menyangkal dirinya. Seperti Yesus, kita perlu belajar memilih memanggul salib kita masing-masing. Pilihan hidup seperti ini memang bertentangan dengan tuntutan naluri yang ada dalam diri kita. Kita cenderung mencari rasa aman. Kita ingin mencari yang lebih enak. Untuk apa susah, kalau memang kita bisa meraih sesuatu dengan instan. Kita lebih baik terlibat korupsi daripada kita kehilangan penghasilan dan supaya cepat kaya. Itulah yang dikehendaki oleh naluri kita. Tetapi hari ini Yesus menunjukkan kepada kita sumber hidup dan kebahagiaan yang lain, yakni pada saat memilih dengan setia mencintai dan mengikuti-Nya di jalan salib.
Selama masa prapaskah kita memasuki permenungan peristiwa bagaimana Tuhan Yesus mencintai kita secara total. Dia membawa kehidupan kepada kita melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Apakah kita mau setia dan memilih jalan hidup yang dilalui-Nya? Apakah sikap dan jawab Anda? (rm, bastian-wawan, cm)


