[RENUNGAN] Rabu, 17 Februari 2010
Matius 6:1-6.1618
Yesus menasihati para murid-Nya agar menghayati kewajiban keagamaan mereka secara tulus di hadapan Tuhan. Segala praktek keagamaan, misalnya doa, puasa, derma dan lain sebagainya tidak dilakukan demi mendapatkan pujian dari orang lain. Tetapi, segala praktek kewajiban keagamaan didasari oleh cinta kepada Tuhan dan sesama.
Pedoman hidup rohani yang ditegaskan oleh Yesus dalam Injil hari ini sangat tepat untuk diperhatikan ketika kita memasuki masa prapaskah. Selama masa prapaskah Gereja mengajak kita untuk memasuki peziarahan rohani yang intens untuk merenungkan kasih Tuhan yang menebus kita. Dalam memasuki peziarahan rohani ini, kita dilatih untuk berpantang dan berpuasa serta peduli dengan orang lain. Segala latihan rohani ini hanyalah sarana untuk lebih mendekatkan diri kita pada Tuhan dan sesama. Lebih tegasnya, kita diundang untuk membaharui hidup kita dengan pertobatan dan bukan untuk tujuan mencari kepuasan diri sendiri.
Masa prapaskah adalah masa yang penuh rahmat di mana kita diberi kesempatan untuk merenungkan hidup kita di hadapan Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita mau memasuki masa yang penuh rahmat ini dengan hati yang terbuka dan tulus, ataukah hati kita masih tertutup karena lebih mengutamakan apa yang kita anggap lebih berharga seperti orang farisi dalam Injil hari ini? (rm, bastian-wawan, cm)



Semoga di awal masa puasa ini, kita berusaha unk mengolah batin kita agar bisa meneng (diam), wening (hening) n dunung (mengerti) apa yg Tuhan kehendaki unk hidup kita.
Met berpantang n berpuasa ya mo….
terima kasu lucy, semoga berani mengolah batin ya….mari saling mendokan. met memasuki masa yang penuh rahmat….gbu