[RENUNGAN] Sabtu, 30 Januari 2010
Beberapa tahun yang lalu saya dan kelurga mengadakan perjalanan dari Sibolga ke Pulau Nias. Kami menumpang kapal penyeberangan yang sangat kecil untuk ukuran laut Samudra Hindia. Setelah empat jam pengadakan perjalanan, tiba-tiba kapal kami “dihantam” oleh ombak yang dahsyat. Para awak kapal menurunkan “jangkar” dan memilih untuk berhenti. Air mulai memasuk ke bagian dalam kapal. Para penumpang mulai panik. Pada saat itu kepala saya sangat pusing. Mabuk. Akhirnya saya memilih untuk tidur. Nah, pada saat saya sedang tidur, beberapa dari keluarga saya yang panik menjadi tenang dan percaya bahwa akan selamat. Mengapa? Rupanya mereka melihat saya sedang berdoa brevir (ibadat harian yang biasa didoakan oleh kaum berjubah) ketika ombak masih belum mengamuk. Mereka melihat brevir itu ada di tangan saya ketika tidur. Maka, mereka percaya bahwa Tuhan menyertai kami. Kehadiran saya, sebagai calon imam, telah meneguhkan iman mereka bahwa Tuhan akan menyelamatkan.
***
Nah, dalam Injil hari ini, para murid merasa berjalan sendiri menghadapi tantangan dan bahkan bahaya maut. Mereka merasa ditinggalkan oleh Yesus. Mereka merasa Yesus tidak peduli dengan mereka. Malah, Yesus memilih tidur sementara para murid sangat panik. Tetapi, Yesus menegur mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Rupanya, para murid belum sungguh mengimani dan percaya kepada Yesus sehingga mereka takut. Mereka belum mengenal siapa Yesus yang bersama dengan mereka. Syukurlah, melalui peristiwa yang mereka alami dan bagaimana Yesus mengatasi kepanikan mereka, para murid mulai mengenal Yesus dengan baik. Betapa pengalaman berjalan sendiri menghadapi kesulitan dan ancaman maut memiliki makna bagi hidup dan panggilan mereka untuk mengenal dan mengikuti Yesus.
Dalam hidup sehari-hari, kita tidak dapat melepaskan diri dari aneka tantangan dan kesulitan. Tidak jarang kita kehilangan harapan hidup ketika menghadapi aneka badai hidup yang kita lalui: Sulit mencari pekerjaan! Ditinggal oleh orang-orang yang dicinta! Kesepian karena tidak dicintai! Dan lain sebagainya! Tetapi, kiranya dalam situasi itu kita tidak kehilangan iman bahwa Tuhan ada bersama kita. Dia ada bersama kita.
Sambil memiliki kesadaran bahwa Tuhan ada bersama kita, kita pun perlu berkata bagi diri kita sendiri bahwa pengalaman sulit ini memiliki makna bagi hidup dan iman kita. Kita bertumbuh mekar di jalan yang sukar. Tetapi, mungkin ada beberapa orang dari antara kita yang sulit berjalan di jalan yang sulit tetapi dengan mata iman. Nah, kita dipanggil untuk membangun iman mereka. Bagaimana caranya? Manakala kita berjalan dalam iman di jalan yang sukar tetapi kaki kita tetap kuat melangkah dengan penuh kegembiraan serta penuh keyakinan bahwa Tuhan menyertai, maka orang lain yang menyaksikan hidup kita juga akan belajar berdiri dan kemudian melangkah dengan pasti di jalan yang sukar, tetapi dengan bekal iman. (rm, bastian-wawan, cm)




Memang bener mo…. banyaknya masalah terkadang membuat kita mengkuatirkan hal yang seharusnya tidak perlu…. namun apa daya kita hanya manusia biasa yang masih mempunyai banyak kekurangan….. tapi manakala persoalan berat datang… hal itu yang membuat kita teringat kepadaNYA…. Tp kebanyakan orang lupa jika hal itu telah berlalu……. Lupa bersyukur kepada Tuhan atas segala anugerahNYA…..
Hanya orang-orang yang tinggal di komunitas kuburan tidak punya persoalan (ha..ha..ha..), siapapun manusia pasti mengalami berbagai kesulitan dan persoalan itu. Tetapi satu keyakinan bahwa Tuhan selalu punya rencana indah atas hidup kita, karena melalui persoalan yang kita hadapi itu sebenarnya Tuhan ingin agar kita semakin dekat kepadaNya. Being alone with God is wonderfull..
mans werang