Sunday, February 5th, 2012

[RENUNGAN] Selasa, 12 Januari 2009

0

Markus 1:21b-28

Seorang imam, ketika dia masih muda, sampai pada kejenuhan dari keseharian yang dia jalani. Setiap hari pergi dari stasi ke stasi yang lain untuk melayani umat. Biasanya dia sudah menyiapkan khotbahnya. Tetapi, dia heran mengapa umatnya banyak yang ngantuk setiap dia khotbah. Karena itu, suatu hari dia meminta katekis yang bersama dengan dia untuk menggantikan dia menyampaikan khotbah. Dengan bahasa yang sederhana dan menggali pengalaman hidup keseharian umat, tentu saja jauh dari uraian teologis seperti di bangku kuliah, khotbah katekis sungguh hidup dan tidak ada umat yang ‘ngantuk.  Lantas, imam itu mulai sadar dan memutuskan untuk lebih mengenal dan merefleksikan kehidupan umat  dan hidupnya sendiri dalam terang sabda Tuhan. Imam itu sungguh rendah hati. Dia mau belajar dari orang lain. lebih dari itu, dia lebih mencintai umatnya sebagai tindakan nyata dari apa yang dikatannya dalam khotbah

****

Yesus mengajar penuh dengan kuasa. Dia mengajar penuh kewibawaan. Dia tidak mengajar hanya sebatas kata-kata, tetapi sungguh apa yang dikatakan tampak dalam tindakan-Nya. Ketika mengatakan bahwa Dia membawa pembebasan (bdk. Luk 4:18-19), Dia wujudkan dalam tindakan nyata dalam hidup orang lain. Misalnya, Dia membawa pembebasan bagi orang yang dirasuki oleh roh jahat. Dia berkata-kata dan mengajar bukan menurut kata orang, tetapi pengajaran-Nya lahir dari keyakinan-Nya sendiri dan berorientasi untuk membawa umat kepada Bapa-Nya. Kewibaan Yesus semakin jelas ketika pendengar-Nya “melirik” pengajaran ahli taurat. Mereka telah melihat dan mengalami bahwa ahli taurat memang ahli dalam bidangnya, tetapi segala apa yang mereka katakan dan ajarkan kerapkali hanya membebani umat. Mereka lebih suka menggunakan ototitas para nabi demi menjaga wibawa mereka. Tetapi sesungguhnya apa yang mereka katakan tidak membawa umat pada Allah, tetapi malah menghalanginya (bdk. Mat 23:13-15). Yesus menunjukkan bahwa pengajaran yang disertai dengan tindakan nyata akan memiliki pengaruh yang besar, yakni membuka mata dan hati orang lain, terutama pada kebenaran Allah.

Apakah dalam hidup sehari-hari, saya lebih suka berbicara atau melakukannya? Apakah setiap perkataan dan tindakanku membawa pengaruh yang membebakan bagi orang lain atau malah membebani mereka? (rm, bastian-wawan, cm)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!