[RENUNGAN] Selasa, 20 Juli 2010
Mat 12:46-50
“Anak durhaka! Anak yang tidak tahu berterim kasih.” Ungkapan seperti ini biasanya cepat keluar dari mulut kita jika melihat seorang anak yang menolak dan tidak menghargai orang tuanya. Mengapa? Karena kita sadar bahwa setelah mengalami kasih orang tua, ada sebuah kewajiban moral dari kita untuk menghormati mereka. Di beberapa suku dan daerah tertentu, penghormatan terhadap orang tua ini begitu istimewa. Orang Nias, misalnya, menyebut orang tua sebagai “Lowalangi ba gulidanö’ (artinya Allah yang ada di dunia). Karena begitu menghormati orang tua, anak-anak tidak akan menyebut nama asli orang tua mereka.
***
Yesus mengatakan bahwa yang menjadi bagian dari keluarga-Nya adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa-Nya. Relasi kekeluargaan tidak lagi diletakkan Yesus hanya pada ikatan darah biologis. Hal ini ditegaskan oleh Yesus ketika pendengar-Nya memberitahukan kalau ibu dan saudara-saudaranya sedang berada di luar. Yesus tidak bergegas menemui keluarga-Nya. Tetapi, Dia berkata: “Siapakah Ibu-Ku? Siapakah saudara-saudara-Ku?” Jika kita membaca sikap Yesus ini dalam sikap hormat terhadap orang tua dari banyak suku bangsa, sepertinya Yesus tidak menaruh hormat kepada orang tua dan saudara-saudara-Nya. Benarkah Yesus tidak menghormati keluarga-Nya? Tidak! Di sini Yesus sedang berbicara tentang dasar relasi yang baru dengan Bapa melalui Dia. Dasar relasi itu adalah iman dan kasih akan Bapa. Dan dasar relasi yang baru ini dihidupi oleh Maria, Ibu-Nya. Maria berkata: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Menjadi seorang kristiani atau menjadi seorang murid Yesus berarti memasuki sebuah relasi rohani dengan Allah dan orang lain. Relasi rohani ini dibangun atas dasar iman dan kasih akan Allah dan sesama! Memasuki relasi rohani dengan Yesus tidak lain belajar untuk setia melakukan kehendak Allah. Untuk itu, kita perlu belajar keluar dari diri kita sendiri. Hidup kita hendaknya terarah kepada Allah dan kehendak-Nya agar kita mampu menghayati persaudaraan sejati sebagai murid-murid Kristus! (Rm. Bastian, CM)



Membaca renungan ini mengingatkan saya pada kerusuhan yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Jakarta…..Sekitar rumah saya masih banyak rumah kumuh, penduduk musiman, cukup padat dan mayoritas umat muslim….dan biasanya kejadian tersebut disalah gunakan oleh beberapa oknum hingga menjadi perselisihan antar suku, agama dll.
Pada waktu pulang dari kantor, saya sempat terkejut melihat orang berkerumun didepan rumah …..ternyata mereka menunggu kedatangan kami, perasaan mereka lega setelah melihat kami pulang dengan selamat.
Disaat mereka membutuhkan pertolongan, kamu juga tidak segan-segan membantu. Pada waktu banjir kami membagikan makanan dan tikar bagi mereka yang mengungsi ke musholla. Kami selalu bahu membahu dalam segala kesulitan…..disini terlihat bahwa kasih Allah sungguh bekerja dan turun pada saat yang tepat….kalau kita mengasihi siapa saja dengan tulus, kita tidak perlu khawatir dan yakin bahwa kasih Allah akan ada hadir saat kita membutuhkan. Tanpa kita minta Allah bekerja menyelamatkan kami. Puji syukur pada-Mu…
Mudah-mudahan kisah ini bisa membangkitkan kasih kita pada siapa saja disekeliling kita tanpa membeda-bedakan suku, agama dan golongan. Belajar tidak egois, menjadikan semua orang seperti saudara.
Bu Saras, terima kasih atas “comment”nya ya… luar biasa pengalaman Ibu…emang benar Tuhan selalu menolong di saat yang tepat. Semoga banyak orang yang belajar untuk hidup dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Semoga orang-orang Kristiani semakin belajar menjadi sesama bagi orang lain….. Tuhan memberkati. Amin