[RENUNGAN] Senin, 11 Januari 2010
“Romo, apakah Romo mendengarkan suara Tuhan sehingga memutuskan untuk menjadi imam?”, itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa orang kepada saya. Ketika saya melihat pengalaman pertama panggilan saya, saya tidak mendengarkan suara Tuhan secara fisik sehingga memutuskan untuk menjadi calon imam. Lantas, seperti apa panggilan awal itu? Saya merasa dipanggil oleh Tuhan lewat pengalaman sederhana, tetapi pengalaman itu dimaknai. Ketika masih kelas dua SMA, saya berkunjung ke sebuah lembaga pemasyarakatan. Sebelum berangkat saya punya intensi, yakni membagikan uang saku saya kepada salah satu dari yang dipenjara dengan syarat kondisinya memprihatinkan. Setelah perjumpaan dengan mereka, saya tertarik dengan salah satu dari mereka dan pilihan saya jatuh kepada orang itu. Saat berpamitan, saya menggenggam amplop dan menyalami orang itu. Lantas, dia memeluk saya sambil menangis. Mengapa menangis, saya juga tidak tahu… yang saya tahu orang-orang yang bersama dengan saya mengira orang itu adalah anggota keluarga saya, padahal bukan! Sejak peristiwa itu, saya merenungkan bahwa orang itu menangis bukan karena uang yang saya berikan, tetapi karena perhatian. Lantas, saya merasa terpanggil untuk memperhatikan mereka yang terpinggirkan dan dalam kesendirian. Itulah awal mula panggilan saya hingga saya menjadi imam.
****
Tuhan memanggil beberapa murid-Nya menjadi rekan-Nya untuk mewartakan keselamatan kepada manusia. Yesus tidak bekerja sendiri. Dia melibatkan orang lain. Dia memanggil orang lain untuk menjawab panggilan-Nya. Menarik untuk disimak, Yesus memanggil para murid-Nya bukan pada saat mereka sedang duduk merenung, melainkan pada saat mereka bekerja. Yesus memanggil mereka di tengah kesibukan keseharian mereka. “Mari, ikulah aku, dan kalian akan Kujadikan penjala manusia.” Sekalipun mereka sibuk, para murid masih mendengarkan suara Yesus yang memanggil mereka. Setelah mendengarkan suara Yesus, mereka merenungkan kata-kata-Nya dan memaknai perjumpaan dengan Yesus. Memang dalam Injil tidak dituliskan secara gamblang, tetapi saya percaya sebagai manusia, para murid tentu berada dalam pergumulan antara “Ya” atau “Tidak” atas undangan Yesus. Permenungan dalam iman telah membawa para murid untuk meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus.
Allah selalu menawarkan panggilan yang sama kepada setiap orang dari antara kita. Di tengah kesibukan keseharian, Dia selalu berkata: “Mari, ikulah aku, dan kalian akan Kujadikan penjala manusia.” Melalui pengalaman keseharian, Dia memberikan kepada kita suatu tawaran yang indah untuk menjadi bagian dari hidup-Nya. Tetapi, kita terkadang tuli dan kurang merenungkan serta memaknai pengalaman-pengalaman hidup kita dalam terang iman akan Tuhan. Suara-suara lain (“kejarlah kekayaan”, “buktikan bahwa kamu bisa” dan suara-suara lain) lebih kuat mengendalikan hidup kita. Masih adakah telinga dan hati pada panggilan Tuhan? Bagaimana dengan Anda? (rm, bastian-wawan, cm)




Jadi intinya harus merenungkan dan peka dengan hal2 kecil yang terjadi dalam hidup kita ya mo…?sy memang merasa santai tidak ada beban melakukan pelayanan malah senang dr pd biasanya…… tapi masih bingung juga mo… apa arahnya kesana…..?apa yang harus ku lakukan ya mo..?agar dapat menemukan jawabannya???????
Benar, bahwa kita harus merenung dan peka terhadap kehendak Tuhan dalam hal-hal kecil dari peristiwa hidup kita. Kalau Anda bahagia menjadi pelayan Tuhan dan sesama sekalipun mendapat aneka tantangan, di situlah panggilan hidupmu. selamat menjadi pelayan Tuhan dan sesama! GBU
ya semoga ya mo……..
renungannya bagus dan inspiratif untuk lebih menjadi peka dan rendah hati dalam hidup setiap hari.
terimakasih
Terima kasih atas apresiasi Alberta atas renungan di atas. Semoga menjadi orang yang peka dan rendah hati di dalam hidup sehari-hari.GBU