Sunday, May 20th, 2012

[RENUNGAN] Senin, 12 April 2010

1

Yohanes 3:1-8

Pada saat kami sedang  menonton salah satu berita yang ditayangkan oleh stasiun Televisi di tanah air, tiba-tiba lampu padam! Lantas, salah seorang dari antara keluarga di mana saya tinggal berkata: “ Ya, beginilah Pastor hidup di tengah perkebunan kelapa sawit. Penyalaan lampu (listrik) dibatasi oleh perusahaan.” Sambil berkata demikian, dia menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan malam itu. Semua orang yang berada dalam ruangan itu menjadi lega kembali.

Peristiwa sederhana di atas, di mana seseorang berinisiatif menyalakan lilin di saat kegelapan, membantu saya memahami tindakan Nikodemus yang menemui Yesus pada malam hari. Injil Yohanes penuh dengan simbol-simbol. Simbol-simbol itu punya makna. Nah, dalam konteks kekayaan Injil Yohanes ini, tindakan Nikodemus menemui Yesus pada malam hari menyimbolkan kegelapan dirinya. Sebagai seorang Farisi dan pemimpin spiritual Yahudi, Nikodemus berada dalam kenyamanan dan kepastian hidup sebagai seorang pemimpin. Kepemimpinan dan hukum taurat memberi kepastian (kemapanan) bagi hidupnya. Tetapi, status mapan ini juga tidak memampukan dia untuk melihat Kerajaan Allah yang menerangi hidupnya. Itulah sebabnya, dia datang kepada Yesus agar kegelapan jiawanya diterangi.

Yesus menegaskan kepada Nikodemus bahwa jika tidak dilahirkan kembali, dalam air dan roh, dia tidak akan mampu melihat Kerajaan Allah. Apa artinya dilahirkan kembali? Tidak lain adalah dia harus menerima Yesus dalam hidup-Nya. Dia harus mendengarkan dan mengikuti jalan hidup kepada Kerajaan Allah yang ditawarkan oleh Yesus. Dia harus menanggalkan manusia lamanya dan menjadi manusia baru sebagai anak-anak Allah yang dilahirkan kembali di dalam Nama Yesus. Singkatnya Jika ingin melihat Kerajaan Allah, Nikodemus harus menjadi manusia spiritual yang mendasarkan hidupnya pada Yesus.

Kita ini adalah makhluk rohani yang berada di jalan manusiawi. Dan kita bukan sekedar makhluk manusiawi yang berjalan di jalan rohani. Jika kita menyadari diri kita sekedar makhluk manusiawi maka kita hanya mendasarkan hidup kita pada hal-hal manusiawi. Tidak jarang, hal-hal manusiawi itu menggelapkan hidup kita dan akhirnya kita tidak mampu menangkap hal-hal yang rohani yang hadir dalam hidup kita. Lantas, kita perlu sadar dengan sungguh bahwa kita adalah makluk rohani yang dilahirkan oleh Allah sebagai anak-anak-Nya. Kita hidup dari Roh-Nya. Kita diselamatkan oleh tangan-Nya di dalam Yesus, Putra Tunggal-Nya. Seperti Nikodemus, kita perlu senantiasa datang dengan rendah hati kepada Yesus agar Dia menerangi jiwa kita yang gelap dan membarui hidup kita di dalam nama-Nya. (Rm. Bastian, CM)


About Rm. Sebastianus W

Rm. Bastian, CM Rm. Sebastianus W. Bu'ulölö, CM biasa dipanggil Rm. Bastian. Imam Kongregasi Misi (CM). Dlahirkan di Teluk Dalam - Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Formator untuk calon imam di Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo - Keuskupan Surabaya yang terletak di Garum - Blitar, Jawa Timur. Pemilik blog http://diamsejenak.com. Untuk hal lain, kontak via E-mail: bastiancm@diamsejenak.com; Twitter: @diamsejenak; Facebook: http://www.facebook.com/Romo.Sebastian.CM


Comments

One Response to “[RENUNGAN] Senin, 12 April 2010”
  1. alberta says:

    terima kasih kiriman renungan yang setia menemaniku setiap hari dan menjadi inspirasi dalam mengolah diri dan menggeluti pengalaman hidup ini. OK GBU

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!