Thursday, April 24th, 2014

[RENUNGAN] Senin, 18 Januari 2010

0

Markus 2:18-22

Dua hari yang lalu, saya mendampingi para seminaris untuk gelandang rohani dan pendakian gunung panderman. Masing-masing dari antara seminaris hidup di antara orang-orang yang sederhana tetapi kaya akan pengalaman hidup. Ada yang tinggal bersama pemulung, bersama anak jalanan, dan lain sebagainya. Setelah selesai gelandang rohani, para seminaris mendaki gunung Panderman di Batu – Malang. Menarik untuk dicermati, pengalaman menggelandang dan mendaki gunung Panderman membawa para seminaris pada sebuah penemuan bahwa Tuhan sungguh mencintai mereka dan mereka akan berjuang  mencintai Tuhan dan sesamanya yang sungguh menderita. Rupanya gelandang rohani dan mendaki gunung tidak menjadi TUJUAN, melainkan SARANA pembinaan rohani bagi para seminaris.

***

Latihan rohani adalah sesuatu yang lazim dan umum ditemukan dalam aneka agama dan budaya. Misalnya puasa! Penginjil Markus menunjukkan bahwa di dalam agama Yahudi, puasa adalah warisan keagamaan yang turun-temurun. Praktek keagamaan ini semakin hidup di dalam diri mereka yang disebut “guru-guru rohani”. Nah, adalah sesuatu yang aneh jika Yesus, yang adalah guru rohani, membiarkan para murid-Nya tidak berpuasa seperti halnya orang farisi dan murid-murid Yohanes. Jangan-jangan Yesus mengabaikan kebiasaan berpuasa ini? Paling tidak, itulah yang ada dalam benak orang yang bertanya kepada Yesus tentang kebiasaan para murid-Nya untuk tidak berpuasa. Benarkah anggapan itu?

Sesungguhnya, Yesus tidak mengabaikan kebiasaan berpuasa karena Dia sendiri sudah menjalani hidup berpuasa sebelum tampil di depan umum untuk berkarya di tengah manusia.  Suka cita para murid bersama dengan Dia, mendengarkan Dia, dan hidup dekat dengan Dia jauh lebih penting daripada puasa yang hanya dilakukan karena aturan keagamaan seperti halnya yang ditunjukkan oleh orang Farisi. Sementara orang Farisi berpuasa supaya orang lain melihat kesalehan keagamaannya, Yesus menegaskan arti terdalam dari  puasa yakni sarana menimba kekuataan rohani, khususnya ketika berada dalam kehilangan dan krisis, untuk lebih mencintai Dia, Sang mempelai. Dengan demikian, segala aneka latihan rohani bukan tujuan kesalehan, melainkan sarana untuk lebih percaya pada Tuhan dan tinggal dalam cinta-Nya dalam situasi apa pun!

Sebagai umat Kristiani, kita memiliki kekayaan latihan rohani yang sangat kaya. Ada praktek puasa. Ada praktek dovosi. Masih banyak lagi latihan rohani lainnya yang kita lakukan. Kita perlu bertanya, apakah segala prakek rohani yang kita lakukan sudah membawa kita pada sebuah keyakinan yang mendalam untuk lebih percaya pada Cinta Tuhan dan peduli pada sesama ataukah kita hanya larut pada kenikmatan rohani dari praktek rohani itu sendiri? Lebih-lebih lagi, apakah latihan rohani yang kita lakukan membawa kita pada sikap rendah hati ataukah kesombongan rohani di mana kita menilai diri kita sebagai orang baik sementara orang lain adalah orang berdosa? Bagaimana dengan Anda? (rm, bastian-wawan, cm)


About Rm. Sebastianus W

Rm. Bastian, CM Rm. Sebastianus W. Bu'ulölö, CM biasa dipanggil Rm. Bastian. Imam Kongregasi Misi (CM). Dlahirkan di Teluk Dalam - Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Formator untuk calon imam di Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo - Keuskupan Surabaya yang terletak di Garum - Blitar, Jawa Timur. Pemilik blog http://diamsejenak.com. Untuk hal lain, kontak via E-mail: bastiancm@diamsejenak.com; Twitter: @diamsejenak; Facebook: http://www.facebook.com/Romo.Sebastian.CM


Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!