Sunday, February 5th, 2012

[RENUNGAN] Senin, 8 Maret 2010

0

Lukas 4: 24-30

Seorang ibu dikagetkan secara tiba-tiba oleh surat panggilan dari pengadilan. Surat itu adalah surat panggilan untuk hadir ke pengadilan karena suaminya meminta cerai. Ibu itu begitu bingung. Dia tidak pernah membayangkan bahwa masalah sepele yang seharusnya bisa diselesaikan harus masuk ke ruang pengadilan.

“Masalahnya sepele, Romo. Dia tidak menyukai makanan yang saya masak. Padahal saya sudah berusaha untuk memasakannya”, kata Ibu itu. Dia meminta saya untuk membeli di warung, tetapi saya menolak demi mengirit pengeluaran. Sejak itu, kami terus mengalami pertengkaran. Tidak ada yang baik yang saya lakukan di mata suami saya.” Katanya sambil menangis.

“Saya akan mempertahankan perkawinan saya. Saya mencintai dia dan anak-anak saya. Saya kasihan dengan anak-anak saya yang tidak pernah meminta paksa untuk dilahirkan” Tegasnya.

Banyak orang yang bermimpi memiliki keluarga yang bahagia. Banyak orang yang mengharapkan sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya.  Mimpi itu tak kunjung terwujud dengan segera, bukan karena Tuhan tidak mau berkarya dalam hidup mereka, tetapi karena hati mereka tertutup, baik terhadap Tuhan maupun terhadap orang-orang yang hadir dalam hidup mereka. Mereka hanya sibuk melihat dan  menghakimi kelemahan orang lain. Mereka sibuk mengecam Tuhan yang tampak diam.  Sementara itu, mereka tidak fokus pada kebaikan yang hendak terjadi dalam hidup mereka.

Dalam Injil hari ini, orang Nazaret menolak dan tidak mau mendengar Yesus. Mereka menolak dia dan bahkan berusaha untuk mencelakai dia. Mengapa? Mereka hanya melihat Yesus sebagai anak tukang kayu. Bagi mereka tidak pantas anak tukang kayu yang tidak berpendidikan, dan anak orang miskin mengajar mereka tentang Allah. Mereka hanya sibuk melihat kelemahan manusiawi Yesus menurut kacamata mereka. Mereka sibuk mempertengkarkan sesuatu yang hanya sepele. Tetapi, mereka mengabaikan kesempatan melihat karya Allah bagi mereka. Karena itu, Yesus mengecam kesombongan dan ketertutupan hati mereka kepada Allah. Mereka sama saja dengan nenek moyang mereka yang menolak dan membunuh para nabi, utusan Allah. Karena sikap penolakan terhadap Allah, para nabi tidak mengerjakan kebaikan kepada nenek moyang mereka. Itulah fakta yang terjadi dalam sejarah iman Israel. Maka, Yesus pun tidak akan mengerjakan karya besar bagi orang sekampungnya seperti dikerjakan-Nya di tempat lain apabila mereka menutup hati kepada-Nya.

Mimpi-mimpi kita akan kebaikan dan kebahagiaan bukan harapan kosong. Jika kita membuka hati kepada Tuhan dan orang-orang yang berkehendak baik, terutama mereka yang hadir setiap saat dalam hidup kita serta fokus pada apa yang baik dan benar, maka Allah pun akan ikut serta mewujudkan mimpi kita menjadikan sesuatu yang nyata. Tetapi, jika kita hanya menutup hati dan sibuk mempertengkarkan hal-hal yang sepele yang sebenarnya tidak perlu, maka kita akan kehilangan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Bukalah hatimu kepada Allah! (rm, bastian, cm)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!