Sunday, May 20th, 2012

Tuhan Mengubahku Menjadi Manusia Baru

4

Dari Redaksi

Kisah di bawah ini adalah sebuah kisah nyata dari seseorang yang tidak disebutkan namanya demi menjaga privasi. Kisah ini sangat menarik. Semoga menggugah saudara untuk semakin dekat dengan Tuhan dan mengalami kasih-Nya.

Kisah ini diambil dari website: www.katolisitas.org. Terima kasih kepada katolisitas.org yang telah memberi izin umum untuk menggunakan segala materi yang ada diwebsitenya.

************

Hidupku yang dulu

Saya bukan berasal dari keluarga Katolik. Keluarga saya mulai dari orang tua, paman, dan tante saya hampir semuanya beragama Buddha. Maka saya pun dulu beragama Buddha, ikut agama orang tua. Saya menjadi Katolik sebelum saya menikah. Awalnya, saya hanya ikut-ikutan saja, karena ingin ikut calon istri saya saat itu, dan asal seiman dengan dia. Karena prinsip hidup saya waktu itu adalah, agama hanyalah suatu ajaran agar manusia itu beradab, karena kalau tanpa agama yang mengekang tingkah laku manusia, manusia itu bisa jauh lebih sadis dan lebih kejam dari binatang. Jadi saat itu saya tidak sungguh- sungguh mengenal Tuhan, sehingga saya tidak juga menghargai segala karunia kasih-Nya.

Sebenarnya, kasih Tuhan yang saya alami dalam hidup saya sudah sangat banyak tapi karena prinsip saya di atas, saya sama sekali tidak merasakannya. Segala keberhasilan saya itu saya anggap sebagai hasil kemampuan saya, bukan berkat dari Tuhan. Kesombongan saya membuat saya berpikir bahwa segala karunia dan berkat Tuhan yang saya terima adalah hasil jerih payah saya sendiri. Sampai suatu saat saya sadar dan bertobat, dan beginilah ceritanya.

Awalnya kehidupan perkawinan saya baik-baik saja: sayang istri, sayang anak-anak dan orangtua. Saya dikaruniai seorang istri yang sangat perhatian dan pengertian, dan sangat mengasihi saya. Seiring dengan kesuksesan usaha saya, mulailah saya masuk ke dunia malam dimana awalnya adalah untuk menjamu/ ‘entertaint’ para supplier dan para pelanggan. Bersama dengan teman bisnis saya, mulailah saya menjelajah dari satu karaoke ke karaoke lain. Saya merasa, dengan menjamu mereka maka saya bisa merasa akrab dengan mereka, sehingga bisa memperlancar usaha saya. Pada saat itu, istri saya tidak curiga. Ia sangat pengertian dan percaya pada saya; namun sayangnya, saya malah menyalah gunakan segala kebaikannya.

Dosa menghancurkan segalanya

Karena sering ikut teman-teman dalam kehidupan malam, suatu hari saya dipaksa mencoba ecstasi. Awalnya saya pura-pura terima kemudian saya buang, namun lama-lama hal ini diketahui oleh mereka. Suatu hari di ulang tahun teman saya itu, saya dipaksa menelan pil ekstasi. Sejak itu mulai rusaklah kehidupan saya, dan saya mendapati diri saya terjerumus ke lubang yang semakin dalam. Mungkin di antara para pembaca di sini juga sudah ada yang tahu bagaimana akibat dari pergaulan dengan kehidupan malam. Pada kesempatan ini, saya ingin menghimbau teman-teman sekalian, janganlah mau coba-coba sekali-kali masuk ke dalam dunia hiburan malam. Dunia malam dapat menyebabkan kehancuran hubungan kita dengan keluarga dan Tuhan.

Saya yang awalnya hanya pergi ke hiburan malam dua kali sebulan, terus menjadi satu kali seminggu, dan akhirnya saya menemukan diri saya terjerumus ke dunia malam hampir setiap hari. Teman-teman saya ada yang sampai tidak tahan melihat kelakuan saya, sehingga saya ditegur dan disuruh mengaku dosa pada istri saya. Saya begitu takut, karena saya tahu bahwa saya telah berbohong begitu banyak kepada istri saya yang begitu penuh pengertian dan mengasihi saya. Namun, akhirnya suatu hari saya memberanikan diri, mengaku kepadanya segala kesalahan saya… Dan betapa hebatnya akibat yang harus saya hadapi! Ya, akhirnya ketakutan saya menjadi kenyataan, karena keluarga saya menjadi … hancur… hancur… dan hancur semuanya……. Istri saya begitu terpukul, ia merasa dikhianati, dan ya, semua memang salah saya. Kalau bukan karena anak-anak saya, mungkin istri saya segera minta cerai pada saat itu. Sayapun sebenarnya sangat terpukul melihat istri saya. Saya sampai tidak dapat mengerti akan diri saya sendiri, kenapa saya sampai hati menyakiti istri saya yang sedemikian mengasihi saya. Sebenarnya, apa yang saya cari? Mengapa saya jadi demikian tega kepadanya? Rasa sesal saya menggunung, dan ujungnya adalah putus asa. Perasaan saya saat itu seperti dunia runtuh.. Kiamat… sampai terbersit mau bunuh diri saja, karena apa lah artinya hidup ini kalau keluarga sudah berantakan semuanya….

Hari itu saya kabur dari rumah, rencananya mau bunuh diri dengan obat tidur di salah satu hotel. Namun karena terlalu kalut, dompet dan semuanya ketinggalan di rumah, sehingga saya tidak dapat menginap di hotel. Akhirnya saya pergi ke rumah teman saya. Inilah cara Tuhan bekerja untuk mencegah saya dari kehancuran. Melalui teman saya, keinginan untuk bunuh diri dibatalkan. Akhirnya saya menginap di rumahnya malam itu… Pada malam itu.. saya merasa sangat menyesal dengan segala tindakan saya selama ini… dan saya sungguh-sungguh bertobat… Dengan cucuran air mata, saya meminta pengampunan dari Tuhan, karena telah berdosa dan telah menghancurkan hati istri dan anak-anak saya. “Tuhan, ampunilah aku….Tuhan, masih adakah maaf bagiku?

Tuhan mengampuniku dan menjadikan segalanya baru

Akhirnya, saya tidak jadi bunuh diri. Kenapa saya ‘terselamatkan’ malam hari itu? Ini saya yakini adalah berkat doa istri saya kepada Tuhan Yesus. Ternyata malam itu istri saya juga tidak bisa tidur, karena merasa menyesal telah mengakibatkan saya kabur dari rumah. Dengan tetesan air mata, istri saya juga berdoa semalaman kepada Tuhan agar melindungi saya supaya selamat dan kembali ke rumah. Saudara-saudaraku, lihatlah betapa manjurnya doa seorang istri. Betapa tidak, sebab sebagai jawabannya, saya merasakan jamahan Tuhan pada malam hari itu……

Tuhan, aku bersyukur Engkau memberikan kepadaku istri yang begitu menyayangiku….. Kumohon, berikanlah kepadaku kesempatan lagi untuk mengasihinya seumur hidupku… Ijinkan aku membuktikan kepadanya betapa aku mengasihinya….” Ah, seandainya setiap suami di dunia ini dapat selalu mengasihi istrinya… Seandainya jangan sampai mengalami pengalaman seperti ini dulu baru tahu artinya mengasihi….

Saya teringat, betapa tertutupnya mata saya selama itu. Di karaoke, maupun di diskotik dan memang ada cewek-cewek yang bisa sangat perhatian, sangat enak diajak curhat dan sebagainya, dan tidak seperti istri yang di rumah sibuk mengurus anak-anak, dan tidak punya waktu untuk mendengar suami. Namun, sesungguhnya itu bukan alasan bagi suami untuk menyeleweng. Sebab menurut saya, para wanita di karaoke/diskotik itu hanya ber-akting, karena ingin mendapatkan sesuatu alias uang. Sebenarnya menyalahkan istri karena terlalu sibuk mengurus anak-anak dan rumah tangga, hanyalah alasan saya saja… Betapa saya menyadari ke-egoisan saya selama ini, tanpa memikirkan istri dan anak-anak saya. “Tuhan, ampunilah aku…”

Walaupun tekad bertobat sudah bulat, namun ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sesuatu yang telah hitam tidaklah dapat saya ubah menjadi putih hanya dalam semalam. Semuanya perlu proses, dan setelah kejadian itu, masih banyak cobaan yang saya alami. Saya mengalami jatuh bangun dalam kehidupan iman saya. Iblis tidak menyukai, kalau saya berpaling darinya. Dia masih berusaha untuk selalu menarik saya kembali. Namun saya bersyukur kepada Tuhan, karena kasih-Nya lebih besar dari semua godaan yang saya alami. Kasih-Nya telah menjaga dan menyelamatkan saya dan keluarga saya. Ia memampukan saya untuk teguh berpegang pada iman dan tekad saya untuk bertobat.

Tuhan menunjukkan kepada saya untuk membuka hati dan menerima kehadiran Yesus. Setelah menerima sakramen Tobat, dan dengan doa, dan bertekun dalam Sabda Tuhan, hubungan saya dengan Tuhan menjadi lebih akrab. Bergabung dengan komunitas di Paroki meningkatkan hubungan saya dengan Tuhan dan sesama. Saya mengalami sendiri, bahwa komunitas membantu saya untuk terus kuat berjalan dalam iman. “Terima kasih, Tuhan, atas rahmat pengampunan-Mu….

Tuhan membimbingku

Hari demi hari saya jalani bersama Tuhan. Setiap pagi, saya berlutut di pojok doa di rumah saya, dan saya berdoa memohon kepada Tuhan Yesus untuk menjaga saya sepanjang hari, agar saya tidak terjerumus ke dalam dunia malam lagi. Memang, dengan memandang salib Yesus, saya menyadari akan besarnya kasih-Nya kepada para pendosa seperti saya. Ia rela menderita sedemikian hebatnya demi menebus dosa-dosa saya. Ya, dengan memandang Yesus yang tersalib, maka saya diteguhkan untuk tidak berbuat dosa lagi. Dan sungguh, Tuhan kita adalah sungguh Allah yang baik, setia dan penuh kasih. Setelah saya bertobat, Dia sungguh-sungguh memberikan rahmat dan berkat yang melimpah kepada saya dan keluarga saya. Sekarang, saya mengakui bahwa segala sesuatu yang ada pada saya adalah karunia. Semuanya adalah karena berkat kasih karunia Tuhan, dan bukan hasil jerih payah saya sendiri. Tuhan sungguh telah bermurah hati pada saya, dan saya tidak akan melupakan-Nya!

Satu hal yang paling saya syukuri adalah, Tuhan memulihkan keluarga saya. Bahtera rumah tangga saya yang retak karena dosa yang saya perbuat, Tuhan bentuk lagi menjadi indah. Saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan, karena Dia memberikan kepada saya istri yang mau menerima saya kembali dengan segala kekurangan dan masa lalu saya yang gelap. Saya bersyukur bahwa saya, seperti kisah anak yang hilang, telah kembali dan diterima oleh Allah Bapa. Saya hanya memohon kepada Tuhan, agar tidak pernah akan menyia-nyiakan lagi kesempatan yang Tuhan berikan pada saya: Ya, saya mau mengasihi Tuhan, mengasihi istri dan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada saya. Saya bersyukur untuk rahmat sakramen Perkawinan yang telah mengikat kami, dan saya berjanji untuk mempertahankannya sampai akhir hidup saya. Saya tidak mau kembali hidup di dalam dosa, sebab hidup saya yang lama telah mati. Sekarang saya memiliki hidup yang baru bersama Tuhan. Terima kasih, Tuhan Yesus. Dimuliakanlah nama-Mu! Biarlah semakin banyak orang mengalami kasih-Mu dan memuji kebaikan-Mu.

sumber: http://katolisitas.org/2008/12/06/tuhan-mengubahku-menjadi-manusia-baru/


About Rm. Sebastianus W

Rm. Bastian, CM Rm. Sebastianus W. Bu'ulölö, CM biasa dipanggil Rm. Bastian. Imam Kongregasi Misi (CM). Dlahirkan di Teluk Dalam - Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Formator untuk calon imam di Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo - Keuskupan Surabaya yang terletak di Garum - Blitar, Jawa Timur. Pemilik blog http://diamsejenak.com. Untuk hal lain, kontak via E-mail: bastiancm@diamsejenak.com; Twitter: @diamsejenak; Facebook: http://www.facebook.com/Romo.Sebastian.CM


Comments

4 Responses to “Tuhan Mengubahku Menjadi Manusia Baru”
  1. yoyoncm says:

    Wah… udah jadi bloger juga nih ya… ? Bagus-bagus tuh tulisanmu wan.
    Ntar kalo ke malang pasti mampir, apalagi kalo kamu tahbisan. Dipastikan datang deh…

  2. Rony Abdityo Nugroho says:

    Selamat malam Frather Wawan, perkenalkan nama saya rony. Saya seorang karyawan swasta yang bergerak dalam dunia medis, usia saya saat ini jalan 27 tahun asal dari jawa tengah salatiga.
    Saya sebagai awam katolik merasa sangat bangga karena Frather dan para Romo sekarang ini tidak lagi “gaptek” (maaf kalau ucapan saya ini menyinggung perasaan). Karena seringkali saya bertemu dengan beberapa Romo dan Frather yang demikian, dan mereka beralasan bahwa mereka sudah sibuk dengan urusan “Rohani” dan tidak sempat belajar hal yang lain.
    Sedangkan sekarang ini teknologi sudah sangat maju dan berkembang kaum muda seperti kami ini sudah menggandrungi dunia teknologi informasi apalagi yang namanya internet, email, blog, game online, dan yang lain.
    Penting juga menurut pemahaman saya jika kaum berjubah juga dapat menguasai teknologi informasi sehingga dapat memperluas wawasan dan juga cakupan pelayanan serta meningkatkan komunikasi dan dengan demikian akan dapat memiliki kesempatan yang lebih untuk dapat ikut dalam menjaga tatanan dunia.
    Kaum awam muda biasanya malas baca buku apalagi Alkitab kami ini biasanya lebih suka mencari informasi dari internet karena menurut kami lebih praktis. Maka kalau ada renungan harian seperti yang Frather Wawan buat ini akan sangat membantu kami kaum awam muda untuk dapat merenung walaupun mungkin kami ada di tempat jauh, atau dalam perjalanan. Mengingat bahwa sekarang ini internetpun sudah bisa diakses melalui handphone. Blog yang Frather buat ini akan sangat membantu kami2 ini yang rindu akan Tuhan, melalui doa, renungan, meditasi, ataupun dengan membaca blog yang telah Frather buat ini.

    Maafkan saya kalau ada salah2 kata, dan kalau commentnya terlalu panjang.

    Semoga Kasih Karunia Tuhan akan berserta kita untuk sekarang dan selama-lamanya, AMIN.

  3. Hai Rm. Yoyon,
    baru 1 tahun ini jadi blogger….makasih ya apresiasinya…
    ni lagi nunggu-nunggu jawaban lamaran tahbisan dioakonatnya… doain ya mo…
    aq dah lihat websitenya romo dan punya paroki priok..wah luar biasa…aq bangga dengan Rm. yoyon dech….
    oc met berkarya ya mo

  4. Dear Rony,
    terima kasih atas kunjungan dan apriesiasi terhadap blog ini…
    emang bener nich, media internet menjadi sarana efektif untuk pewartaan iman…. saya sadar bahwa ini sangat penting untuk membantu banyak orang… sekarang ini, dah banyak sich para romo, frater, suster dan bahkan uskup klo gak salah juga memanfaatkan media ini..

    Btw..klo sempat mas Rony bagi-bagi pengalaman dong di blog ini….. paling tidak pengalaman sehari-hari sebagai karyawan swasta yg bergerak dalam bidang medis…. misalnya, gimana nich pergumulan hidup dan iman… saya yakin akan memperkaya banyak orang dech..

    masih n salam kenal ya….
    gbu

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!