Sunday, February 5th, 2012

WANITA BERHATI MULIA

11

oleh: Mans Werang, CM (misionaris CM untuk PNG)

Hari sudah menjelang pagi, namun kabut putih masih menyelimuti kampung kecil di paroki tempat saya tinggal. Belum tampak ada aktivitas dari umat. “Mungkin mereka masih sibuk memasak untuk sarapan pagi, sebelum datang ke gereja. Pikirku dalam hati”. Di pingir jalan, hanya ada dua orang muda yang sedang duduk, sambil menikmati sirih pinang dengan baju yang dikalungkan saja pada leher mereka. Saya datang mendekati mereka dan memilih duduk bersama mereka sambil menunggu kendaraan umum. Sudah dua bulan, saya tidak mengunakan truk paroki, karena masih dalam proses perbaikan. Saya merasa agak gelisah, karena sudah lama saya menunggu, tetapi hanya ada kendaraan pribadi dan milik perusahan saja yang melaju di jalan raya. Sesekali Bis dan truk melintasi jalan raya, tetapi selalu penuh dengan penumpang. Beberapa umat mulai bergegas menuju gereja, ada yang berhenti sejenak berbincang-bincang dengan saya, namun ada yang segera berjalan menuju gereja paroki.

Hari itu saya tidak merayakan perayaan ekaristi hari minggu di pusat paroki, tetapi di stasi Ningerum, kota kecamatan, sekitar 27 kilo meter dari pusat paroki. Sudah dua kali dentang lonceng gereja di paroki, itu berarti saya hanya mempunyai waktu satu jam lagi. Tidak lama kemudian sebuah bis melaju dan berhenti di pinggir jalan, namun mereka menolak menerima penumpang. Seorang ibu tua datang mendekati sopir itu meminta kesediaannya agar saya diperkenankan untuk menumpang di dalam Bis itu.

“Tidak ada tempat duduk lagi”. Kata sopir itu kepada ibu itu.

“Tidak apa-apa yang penting father dapat pergi ke Ningerum”. Sahut ibu itu.

Sayapun diperkenankan masuk ke dalam Bis umum itu. Saya hanya berdiri saja diantara para penumpang. Seorang ibu tua yang lain di dalam Bis itu menawarkan tempat duduknya kepada saya, namun dengan sopan saya menolaknya. Bis itu melaju dengan cepatnya, sehingga saya dapat tiba di stasi Ningerum, meskipun agak terlambat memulai perayaan ekaristi.
Selesai perayaan ekaristi, saya masih memberikan katekese kepada umat di Stasi Ningerum. Kebanyakan di antara mereka sangat antusias bertanya tentang persoalan iman mereka. Saya melihat jam di gereja menunjukan pukul 12 siang. Segera saya pamit dan bergegas menuju jalan raya, menunggu kendaraan umum untuk kembali ke pastoran. Saya duduk saja di atas tumpukan batu. Saya merasa sangat gelisah, karena saya tidak tahu dengan pasti apakah ada kendaraan umum yang lewat lagi pada jam-jama itu. Pada hal sore harinya saya harus berangkat lagi ke stasi yang lain. Di tengah pergulatanku dan rasa lapar, seorang ibu tua membawa balok kecil dan meminta saya untuk mengunakannya. Saya tidak tahu siapa ibu itu, dan segera dia kembali duduk di atas tumpukan batu. Saya mengucapkan terima kasih, dan dia hanya membalas dengan senyuman saja. Rupanya dia tidak dapat berbahasa inggris. Pakaian yang dikenakan sangat sederhana, tampak kumal dengan sobekan di bagian belakangnya, sedangkan di kepalanya disematkan topi yang sudah lusuh, sedangkan di lehernya berbagai macam kalung dari berbagai macam tali berwarna-warni, dan sebuah lukisan kayu berbentuk hati disematkan di dadanya.

“Mungkin ibu ini, umat stasi Ningerum”. Pikirku dalam hati.

“Tidak mungkin”, kataku lagi.

“Seandainya dia salah satu umat, pasti dia menyapa saya dengan sebutan father seperti kebanyakan orang-orang disini”.

Tetapi dari caranya dia memperlakukanku, mungkin saja dia mengenalku. Gumamku. Saya masih menunggu dengan sabar di pingir jalan. Saya tidak tahu sudah berapa jam saya masih menunggu kendaraan yang lewat. Tampak kendaraan-kendaraan pribadi dan milik perusahan yang melaju dengan cepat di jalan tersebut. Saat saya menundukan kepalaku, ibu tua itu datang lagi membawa pisang, dan nenas untuk saya. Sambil tersenyum, dia memberikan pisang dan nenas itu untuk saya. Saya mengeluarkan uang dari saku celana dan memberikan kepadanya, namun dia menolaknya. Sambil membuat gerakan tangannya bahwa itu untuk saya dan tanpa bayaran. Saya hanya mengucapkan terima kasih kepadanya. Ia hanya membalas dengan senyuman lagi dan bergegas ke tempat duduknya semula.
Sambil menikmati pisang pemberian ibu tua itu, sebuah kendaraan Bis berhenti di tempat pemberhentian. Saya bergegas menuju tempat pemberhentian kendaraan itu. Ternyata banyak penumpang juga ingin masuk ke dalam kendaraan itu, termasuk ibu tua itu. Ibu itu segera masuk ke dalam Bis itu, namun sesaat kemudian dia keluar lagi, dan sambil tersenyum dia membuat gerakan tangannya meminta saya untuk mengambil tempat duduknya. Saya menolaknya, tetapi dia meminta sekali lagi dengan gerakan tangannya. Saya segera naik ke kendaraan itu, karena jam empat sore saya harus berangkat lagi ke stasi yang lain untuk mendengarkan pengakuan dosa. Sekali lagi saya mengatakan terima kasih kepada ibu tua itu, dan sambil tersenyum dia meninggalkan tempat pemberhentian kendaraan dan pergi ke tempat duduknya semula. Mungkin dia menunggu kendaraan berikutnya. Saya mencoba bertanya pada penumpang yang duduk disampingku, dan mereka berkata ibu tua itu dari kampung yang sangat jauh dari Ningerum. Dari nama kampung itu, saya mengetahui bahwa ibu itu bukan seorang Katolik. Ia hendak ke kota untuk menjual barang-barangnya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sedang sekolah di kota. Nama ibu itu Angelina. Kata seorang penumpang kepadaku.
Saya baru tiba jam tiga sore di pastoran. Segera saya memasak makanan dan bersiap-siap untuk berangkat lagi ke stasi yang lain. Rasa lelah, dan capek dan memikirkan harus berjalan kaki dua jam menuju stasi Dmesuke membuat saya merasa enggan untuk berangkat. Namun saya ingat umat sudah menunggu kedatangan saya untuk menerima sakramen pengakuan dosa. Tatkala saya mempersiapkan diri untuk berangkat lagi ke stasi yang lain, saya segera keluar dari rumah dan mengunci pintu pastoran, sebuah mobil truk masda masuk ke halaman gereja. Seorang anak muda keluar dari mobil dan berkata kepadaku bahwa dia ingin mengantarkan saya ke stasi Dmesuke. Ibunya menyuruh dia untuk mengantarkan saya. Saya merasa heran, karena ini pertama kali ada orang yang datang menawarkan kebaikannya. Sayapun mengucapkan terima kasih, dan segera itu kami melunjur ke stasi Dmesuke. Saya baru tiba kembali di pastoran pada malam hari dengan selamat.
Ketika saya pergi ke tempat pembaringan, bayangkan wajah Angelina, ibu tua yang memberikan balok kecil untuk duduk, pisang, nenas, mempersilakan saya mengambil tempat duduknya di Bis dan membiarkan dirinya harus menunggu kendaraan berikutnya serta ibu yang mengirim anaknya dengan mobil untuk membantu saya, membuat saya merenungkan betapa mulia hati mereka. Tindakan cinta yang sederhana dan kecil itu adalah simbol kecantikan hati mereka. Meskipun mereka adalah orang-orang yang sederhana, tetapi mereka mempunyai kekayaan hati. Mereka mungkin tidak tampak cantik dari luar, tetapi mereka menampilkan inner beauty yang memukau. Sekaligus kehadiran mereka, mungkin tanda kehadiran malaikat penolong di saat kita mengalami kesulitan. Saya tidak sempat bertanya dan mencari alasan mengapa ibu Angelina, dan ibu yang mengirim anaknya dengan mobil membantu saya. Mungkin mereka mempunyai alasan tersendiri untuk membantu saya. Namun saya ingat Paul Coelho, seorang Novelis, di dalam novelnya yang berjudul “Brida” menulis demikian, we don’t look for an answer, we accept, and then life becomes much more brilliant, because we understand that each minute, each step that we take, has a meaning that goes far beyond us as individuals. We realize that somewhere in time and space this question does have an answer. We realize that there is a reason for us being here, and for us that is enough. Kini saya menyadari bahwa saat sulit, gelisah, takut, dan sendirian adalah saat Tuhan menunjukan jalanNya kepada kita. Saat-saat itu bila kita tetap setia mengikuti langkahNya, Dia selalu menuntun kita dengan caraNya sendiri, mungkin itu yang disebut malaikat-malaikat penolong di saat kesulitan. Terima kasih Angel.

Comments

11 Responses to “WANITA BERHATI MULIA”
  1. Rm. Bastian-Wawan, CM says:

    Rm. Mans, pengalamannya sangat menarik dan menggugah saya untuk belajar melihat karya Tuhan dalam peristiwa-peristiwa kecil. met berkarya bagi orang-orang kecil… n terima kasih juga kiriman artikelnya ya….God Bless you, Father…..

  2. lucy sukantio says:

    Maka benar adakalanya kita tdk perlu mencari jawaban atas kejadian n persoalan hdp kita agar Tuhan sendiri bisa memberikan jawabannya. jangan pernah lelah unk menunggu, krn mujizat selalu ada…..
    met berkarya di negara orng n Tuhan selalu melindungi rm.

  3. sarma says:

    indah banget .. kisahnya …
    bagus .. di tambah lagi kisah2nya .. + lagu rohani juga … gbu

  4. disa says:

    ” we don’t look for an answer, we accept, and then life becomes much more brilliant, because we understand that each minute, each step that we take, has a meaning that goes far beyond us as individuals. We realize that somewhere in time and space this question does have an answer. We realize that there is a reason for us being here, and for us that is enough ”

    Simple story with Nice quote at the end !!

    • Disa,
      betul sekali, kita harus belajar menerima hidup yang penuh dengan tanda tanya… Kita harus memaknai setiap moment dan keberadaan kita di dunia ini…. Lantas, hidup akan menjadi indah!

      GBU

  5. erna says:

    terima kasih atas pengalaman,bagus bgt jarang2 org yg mau memberi tuumpangan& bantuan kepada orang.

    • Erna,
      terima kasih atas kunjungan dan juga comment di diamsejenak.com
      semoga pengalaman berbagi ini juga kita hayati dalam hidup sehari-hari,,,,,

      Oh ya, Jika ada pengalaman menarik, Erna bisa share (bagikan) kepada pembaca diamsejenak.com

      Tuhan memberkati Erna

  6. henny says:

    wah….ibu yang sungguh baik hati…..selamat mengabdi romo…semoga kasih Tuhan selalu menyertai romo dalam setiap tugas panggilan romo….

  7. Piet says:

    Selamat sore Romo,saya sangat senang dengan renungan singkat dari Romo.Walaupun singkat tapi sarat makna dan praktis kalau direfeksikan didalam menjalani kehidupan ini.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!